Penutupan bulan November 2017 adalah momentum yang sangat menakjubkan bagi Masyarakat Nganjuk, khususnya masyarakat Desa Patran. Bertepatan dengan malam tanggal kelahiran Baginda Rosul Muhammad SAW, diadakannya acara rutinan simpul maiyah Tasawwuf Cinta Nganjuk, walaupun sebenarnya ini adalah rutinan untuk bulan Desember. Sehari sebelumnya di daerah Nganjuk ketiban rahmat Allah berupa hujan sehari full, tidak terkecuali pada hari ini. Namun, Alhamdulillah tepat sehabis maghrib, hujan mulai reda walaupun masih gricih.
     Lokasi sinau bareng rutinan kali ini berbeda dengan lokasi rutinan sebelumnya. Pasalnya di TC sendiri tempat lokasi pengajian tidak menjadi hal yang tetap. Dapat berpindah sesuai kebutuhan namun masih dalam lokal area Tanjunganom. Saya berangkat dari daerah Kota Nganjuk pukul 18.20 wib, karena saya bukan asli orang Nganjuk dan belum hafal daerah lokasi, saya memutuskan untuk menuju Rumah Pak Isa Anshori terlebih dahulu.
Kemudian, tepat waktu Isya’ sekitar pukul 18.55 wib saya tiba di lokasi Rumah Pak Isa Anshori.  Setelah shalat Isya’ dan bersiap kami pun berangkat menuju lokasi bersama salah seorang anggota TC, Cak Syamsul Ma’arif. Bukan main daerahnya. Kondisi jalan yang licin, rusak dan gelap membuat saya lebih penasaran dengan area sekitar. Rutenya saya tidak tahu pasti, yang jelas masuk jalan perkampungan yang dihiasi dengan pemakaman umum yang sangat magis pun dengan sederet cerita – ceritanya.
Setelah menempuh perjalanan sekitar 15 menit akhirnya kami pun tiba di lokasi rutinan. Lokasi rutinan ini terletak di Desa Patran Kec. Tanjunganom Kab. Nganjuk. Lokasi ini dipilih karena nuansanya yang begitu hangat. Bersentuhan langsung dengan alam, beratapkan langit, beralaskan bumi. Sebelum dengan itu semua, saya mendapat keterangan informasi bahwa sore tadi ketika hujan disertai angin kencang, tenda atau terop acara yang sudah disiapkan ambruk diterjang angin. Hal ini membuat saya berfikir bahwa ketangguhan dan semangat juang para sedulur di TC sangat erat dan mempunyai rasa persaudaraan yang tinggi.
Saya memang belum sepenuhnya mengenal daerah Nganjuk, apalagi daerah seistimewah Tanjunganom. Namun dari binar – binar cahaya mata baik dari sedulur panitia TC maupun dari masyarakat sekitar membuat saya cukup meraup banyak energi luar biasa. Terbiasa hidup di kota besar selama lebih dari 5 tahun membuat saya takjub berkali – kali. Kondisi hujan tidak menurutkan semangat para kekasih Allah ini untuk mencari pendaran – pendaran ilmu dariNYA. Yang saya ucap selama di lokasi rutinan adalah subhanallah….subhanallah walau hanya tersimpan dalam hati.

Lebih baru Lebih lama