Cerahnya mentari perlahan menampakkan dirinya. Semilir angin yang masih tertahan menyelimuti dengan dingin yang seperti biasanya Bersamaan dengan putaran roda empat yang kami tumpangi, pagi ini Ahad (25/3) kami berlima (Mbah Din, Mas Isa, Mas Andra, Mas Sholihin, dan saya) melaju untuk menghadiri sebuah acara yang diberi nama “Workhsop Simpul Maiyah Regional Jawa Timur Bali tahun 2018”.
     Agenda khusus untuk setiap simpul maupun lingkar dengan mengirimkan delegasinya guna menerima pemaparan langsung materi terkait penguatan organisme maiyah. Kita tahu bahwa semakin hari, minggu, bulan bahkan tahun perkembangan komunitas maupun majlis maiyah dibeberap tempat mulai bermunculan, tentunya dengan karakteristik dan ranah histori yang berbeda. Acara tersebut memang sebelumnya sudah digagas dan direalisasikan oleh Koordinator Maiyah simpul Pusat dan seluruh simpul di Jawa Timur yang telah terdata termasuk Tasawwuf Cinta untuk mengikutinya.
        Singkat waktu, perjalanan kami lumayan cepat via tol Kertosono-Surabaya dan tiba dilokasi sekitar pukul 07.30 WIB, setengah jam sebelum acara dimulai. Bertempat di UNIT 2 MI Tarbiyatus Syarifah, telah datang juga penggiat simpul lain yang dielegasikan dan kami langsung disambut panitia. Diperkenankanlah kami untuk menikmati sarapan dipagi ini yang telah disediakan sebelum acara pembukaan dimulai. Pukul 08.15 WIB, acara kemudian diawali dengan registrasi lalu pembukaan acara disalah satu ruang kelas. Mas Mustofa, selaku ketua pelaksana yang sebenarnya orang Nganjuk namun berdomisili di Surabaya sehingga beliau sudah menjadi bagian dari simpul Bangbang Wetan menyampaikan sambutannya.

Kemudian dilakukan pendataan dan cross check kehadiran delegasi oleh Mas Hari Widodo selaku Koordinator Simpul Regional 3. Kemudian dilanjutkan oleh Mas Rizky juga Koordinator Simpul selaku penggiat Maiyah Juguran Syafaat Purwokerto, ikut memberikan pemaparan tentang tujuan dari pelaksanaan workshop kali ini. Melalui paparan slide shownya beliau menjelaskan bahwa penataan atau perorganisasian simpul maiyah ini berlatar belakang dari rangkaian kegiatan Silaturahmi Nasional (SILATNAS) Maiyah yang telah berlangsung pada tahun 2012 dan terus dilaksanakan ditahun berikutnya dengan fokus dan lokasi yang berbeda. Kemunculan simpul maiyah kian hari bertambah disetiap daerahnya nampaknya perlu mendapatkan sebuah koordinasi dan pola peorganisasian yang baik supaya bisa tertata. Perkembangan tersebut tentunya sangat di apresiasi. Benih-benih simpul baru bermunculan sesuai dengan entitas dan karakteristik serta nilai histori yang berbeda setiap daerah menambah khasanah maiyah. Beliau menyampaikan meskipun, maiyah itu sifatnya cair, tidak ada perorganisasian secara baku (formal) tentu perlu sebuah penataan supaya secara kontinu kegiatan yang berlangsung dapat terpantau dengan baik. Oleh karenanya pada SILATNAS ke-4 di Jakarta, tercetuslah gagasan untuk mengorganisasi setiap simpul dan Piagam Maiyah untuk menata kembali Maiyah ke depan lebih baik.

         Dilanjut dengan paparan materi dan tanya jawab tentang kendala serta pengenalan beberapa simpul dipandu oleh Mas Fahmi Agustian juga selaku Koordinator Simpul dan Penggiat Maiyah Kenduri Cinta. Tasawwuf Cinta juga mendapatkan apresiasi oleh salah seorang koordinator, karena terbilang simpul baru yang secara kontinu dan progressif kaitannya media informasi dan keaktifan. Mas Isa Anshori selaku salah satu Penggiat TC menyampaikan bahwa awal mula simpul maiyah ini berdiri sudah sejak awal meskipun belum bernama atau mengenal Maiyah yakni Padepokan Abdi Kinasih (PAK). Sehingga setiap simpul yang berkumpul dihari itu juga. Ada yang sudah lama terbentu ada juga yang baru berusia 14 hari. Namun kesemua itu terangkum menjadi satu dalam kebahagiaan bersama, saling kenal dan bercengkerama satu sama lain. Di maiyah kami terbiasa dan diajarkan untuk siap di model dan situasi apapun karena niat kami yakin sudah diperjalankan sampai tempat ini. Dilanjut sekitar pukul 11.00 WIB sesi pertama sekaligus pembukaan selesai dan kami diperkenankan coffe break sebentar, rokokan, ngopi dan kemudian dilanjut dengan sebelumnya ada pembagian kelas. Karena panitia sebelumnya sudah mengantisipasi kalau yang akan datang di workshop kali ini diyakini tidak hanya dua orang pewakilan simpul saja,oleh karenanya ditambahlah satu kegiatan yang menurut kami sangat amat dan penting sekali yakni Pelatihan penulisan reportase dan pengelolaan website. Mas Isa mengikuti kelas Manajemen Forum, saya berada dikelas Pengelolaan Media Simpul dan Mas Andra berada dikelas Pelatihan Pembuatan Reportase dan Website.
         Selesai dari pendadaran setiap kelas, kemudian dilanjut pada kelas besar lagi dimana dari pembagian elas dikumpulkan lagi saat pertama pembukaan. Di sesi ini juga Mas Sabrang hadir sekaligus menjawab dan merespon butir-butir pertanyaan atau kendala terkait simpul yang disampaikan pada saat kelas kecil. Kendala-kendala tersebut dapat dibagi menjadi beberapa point yakni :
  1.  Terkait kesulitan mencari narasumber atau pengisi disetiap rutinan maiyahan. Mas Sabrang merespon bahwa narasumber disetiap simpul atau lingkar tidak wajib harus Kiai, Ustadz, dan siapapun. Justru disinilah perbedaannya maiyah dengan kajian lain. Syarat utama di maiyah bukan ceramah, menceramahi atau nuturi melainkan sinau bareng. Bisa jadi setiap penggiat berinisiasi mendatangkan tokoh lokal yang ahli dan tahu dalam bidangnya. Misalnya daerah pedesaan dengan mendatangkan orang atau tokoh yang ahli dalam bidang pertanian, tahu akan pertanian atau bisa jadi sesepuh atau yang dituakan dalam suatu wilayah misalnya sinau ngelmu tua da sebagainya. Sehingga mereka yang terlibat bisa saling merespon dan memahami bahwa apapun bisa dibahas di forum maiyahan setiap daerahnya.
  2. Ada jua permasalahan terkait pengkaderan atau Re-generasi, tujuan penyeragaman dan pengorganisasian dalam media dan ada beberapa yangakan direspon.  Intinya serangkaian kegiatan workshop dalam satu hari ini banyak memberikan wawasan, pengetahuan dan ilmu terkait penguatan organisme maiyah kaitannya simpul didaerah yang terus terkoordinasi dengan simpul pusat. Bukan untuk jangka pendek atau menengah melainkan mempersiapkan jangka panjang kedepan. Harapannya setelah selesai workshop ini, setiap wakil simpul dapat menguatkan kembali koordinasi dengan para penggiatnya.
  3. Kemudian pada puncaknya acara ditutup dengan berfoto bersama dan tepat selesai pada waktu ibada sholat magrib. Banyak ilmu dan wawasan baru yang patut kami sampai sampaikan kepada para penggiat tentunya untuk maiyah kedepan.

Lebih baru Lebih lama