Header Ads

Header ADS

Menyemai Benih Maiyah

Malam ini (6/4) adalah rutinan maiyahan yang ketiga kalinya bagi masyarakat Dusun Patran dan ke empat kalinya dipenanggalan tahun 2018 bagi Tasawwuf Cinta sendiri. Tidak sampai mengira, perjalanan demi perjalanan, waktu demi waktu yang sudah menapaki sau tahunnya ini, Tasawwwuf Cinta masih tetap istiqomah terselenggara.
      Semua tidak lepas dari pertalian yang dipersambungkan oleh ALLAH SWT melalui hamba-hambaNya yang mulia, gigih dan selalu semangat dalam menebar silaturahmi kepada sesama. Dari mulanya hanya berkumpul beberapa orang dibawah naungan kelompok atau komunitas yang mereka sebut “Padepokan Abdi Kinasih”, sekarang berkembang menjadi satu bagian atau simpul dari Maiyah. Disisi lain dinamika yang terus berkembang dan laju pesatnya teknologi dan informasi dizaman ini semakin menjadikan Tasawwuf Cinta tidak lagi hanya ada dalam satu rutinan bulanan saja. Perlu ada ijtihad, langkah-langkah kecil, atau semacam kegiatan diluar rutinan bulanan agar Tasawwuf Cinta luwes, fleksibel dan terus gergerak. Senada dengan hal itu tenyata dulur-dulur Tasawwuf Cinta sendiri sudah mempunyai beberapa gagasan yang tanpa sadar ada beberap yang sudah diaplikasikan.
Kemurunan warga masyarakat Dusun Patran. Nampak bergerombol ibu-ibu
       Rutinan Tasawwuf Cinta sendiri kini dalam kurun waktu hampir 1,5 tahun sudah memiliki beberapa rutinan diluar rutinan bulanan yang waktunya sendiri diatur diatur berdasar musyawarah dan permufakatan bersama. Misalnya : Majelis Tawasull dan Ngaji Kitab Al Hikam disetiap Selasa Pon Malam Rabu Wage, Rembug Tema Maiyah disetiap satu minggu sebelum rutinan Maiyah, Diskusi kecil dan Tawasulan yang berlangsung setiap Jum’at malam sementara di lingkar Kertosono, Baron dan sekitarnya, Latihan bersama Komunitas Musik sekaligus Pengiring pada setiap rutinan Tasawwuf Cinta “Kiai Anom Kusumo (KAK)” pada malam selasa setiap minggunya. 
       Berbagai kegiatan yang berlangsung diluar rutinan bulanan diharapkan mampu menjaga dan menguatkan hubungan baik antar penggiat maupun jamaah. Mas Isa selaku penggiat maiyah juga pernah mengatakan kalau rutinan di Tasawwuf Cinta itu ibarat kapal besar dan rutinan kecil diluarnya adalah sekoci-sekocinya. Sehingga selepas rutinan kecil berlangsung tentunya ada salah satu atau dua gagasan, pemikiran atau ilmu baru yang bisa disampaikan pada rutinan bulanan. Tidak lain semua yang berlangsung itu secara terus menerus selalu disandarkan niat karena Allah Ta’ala. 
       Untuk penggiat maiyah Tasawwuf Cinta sendiri juga terdiri dari sedulur maiyah Nganjuk dimana pada saat pendataan simpul kemarin diusulkan agar setiap kecamatan dapat mewakilkan satu sampai tiga penggiat. Dengan sukarela dan memang sudah terjalin persaudaraan yang lama hal tersebut bukan menjadi halangan. Sama halnya dengan grup musik “Kiai Anom Kusumo” juga menjadi satu komponen tak terpisahkan dari Tasawwuf Cinta dimana selain sebagai pengisi disela-sela diskusi atau sinau bareng, ikut ndedher benih generasi maiyah. Terlihat dari personilnya yang komplit baik dari sisi kehidupan, pekerjaan maupun niatannya. Ada yang sudah berumah tangga, ada yang belum, bahkan ada yang masih sekolah. Hal ini menunjukkan keikutsertaan mereka didalamnya salah satu sub unit bagian dari Tasawwuf Cinta ini bukan karena paksaan apalagi suruhan.
       Ditepatnya acara malam itu pun yang datang tidak hanya dari kalangan warga masyarakat yang berusia dewasa melainkan anak-anak yang masih duduk dibangku sekolah dasar tak luput ikut juga dalam keikutsertaan maiyahan.
Kegembiraan anak-anak dalam balutan maiyah
       Oleh karena itu selain terus belajar dan belajar, di simpul maiyah Tasawwuf Cinta juga ikut menyemai atau ndedher embrio yang kelak juga akan meneruskan perjuangan maiyah. Selagi kita mampu melakukannya, pasti ada jalan dan rute yang sudah Allah sediakan.
Diberdayakan oleh Blogger.