Prolog "Tandange Pandhawa Pitu"



Pandawa adalah Putra Pandu yang berjumlah lima. Yudhistira, Bima, Arjuna dan si kembar Nakula dan Sadewa. Kelahiran mereka begitu istimewa, bahkan beberapa tokoh bangsa Dewa pun berkehendak menemani kelahiran mereka. Kemunculan mereka di dunia wayang terasa akan menjadi sebuah keajaiban. Semuanya begitu sempurna.
        Sampai ketika takdir berkata lain. Cobaan demi penderitaan justru yang mereka hadapi. Pengkhianatan, upaya pembunuhan, penghinaan, pelecehan, terkucilkan, hidup dalam pengasingan. Segala bentuk ujian dan perjuangan mereka alami. Tapi justru itulah yang mendewasakan mereka. Semakin menyempurnakan ilmu kanuragan dan kautaman mereka. Melihat semakin benderang rahasia alam, makna kehidupan dan arti kematian.
       Sampai akhirnya perang saudara Baratayudha itu harus terjadi. Kemenangan Pandawa tak lebih adalah buah yang mereka petik atas perjuangan yang mereka tanam. Dan setelah kemenangan perang, bukan disikapi dengan pesta pora. Setelah Baratayudha, Pandawa kembali dengan tanggung jawabnya, dan menjalani kehidupan seperti biasa. Dan seperti layaknya manusia, ada kala bersinar, suatu saat redup, dan akhirnya menemui ajal. Sebuah kisah perjalanan hidup para Pandawa yang penuh liku, dan segala manis pahit kehidupan.
       Namun banyak orang, terutama para penduduk Amarta, negri yang Pandawa bangun, berpendapat bahwa apa yang mereka alami juga terdapat peran yang tidak sederhana dari saudara, teman sekaligus sahabat seiring mereka. Adalah orang-orang yang selalu berada diantara mereka baik dalam suka maupun duka, dikala bahagia maupun saat pedih derita. Adalah Kresna, putra kerajaan Mandura, yang kemudian menjadi raja Dwarawati yang selalu mendampingi Pandawa. Juga Satyaki, ksatria dari Lesanpura yang menjadi panglima Dwarawati. Dua orang ini adalah seorang raja sekaligus ksatria yang tahu benar arti sebuah persahabatan dan makna sebuah persaudaraan. Pendapat yang sama bila hal sama ditanyakan kepada para penduduk Dwarawati.
       Hal yang beda disampaikan oleh rakyat Mandura, mereka menganggap raja mereka Baladewa menjadi penentu kemenangan Pandawa di Baratayudha, ketika Baladewa tak memihak saat perang di Kurusetra itu. Baladewa bisa jadi akan merubah keadaan bila saja dia hadir di padang Kurusetra itu dan memihak Kurawa. Sehingga rakyat Mandura lebih suka menganggap Baladewa dan Kresna yang berperan atas kejayaan Pandawa. Tapi tetap saja, pendapat kebanyakan lebih suka memihak kepada Kresna dan Satyaki yang selalu menemani Pandawa saat suka maupun susah.
       Sehingga bisa dipahami ketika orang-orang itu kemudian berpendapat bahwa perjuangan Pandawa tidak sekedar dialami oleh lima anak Pandu. Perjuangan hidup mereka juga selalu ditemani Kresna dan Satyaki. Itulah mengapa, bagi mereka, Pandawa tidak hanya lima. Mereka seharusnya ber-tujuh. Pandawa tujuh (Pandawa Pitu).
        Di era global yang penuh dengan modernisasi tak jarang kita selalu berbenturan dengan berita-berita yang membuat kita measa geram, membuat emosi kita terpancing sehingga menuruti amarah dan hawa nafsu kita. Disamping itu pernahkah kita menyadari bahwa  sebenarnya kita ini hidup dalam kepalsuan, dimana masyarakat sekarang ini sibuk dengan tujuan/hasil daripada niat, menghalal kan segala cara demi mencapai tujuan mereka. Seolah merasa bahwa hasil adalah segala-galanya padahal tanpa niat yang baik hasil yang kita dapat tidak akan berkah bagi kehidupan kita. Ambil contoh saja kerja, sebagian masyarakat kita bekerja tujuan utamanya adalah duit atau untuk memperoleh harta, menumpuk harta sebanyak-banyaknya tidak peduli segala cara ditempuhnya seperti saling sikut, saling jegal terkadang bahkan saling bunuh. Melakukan berbagai pencitraan agar terlihat baik, padahal yang mereka lakukan adalah semu.
        Bukan hanya itu masyarakat kita sangat mengagung-agungkan materialisme, melakukan kebaikan saja jika tidak ada uang atau menguntungkan dirinya seolah enggan untuk tandang. Rasa ikhlas dan persaudaraan sudah tidak menjadi prioritas utama dalam melakukan kebaikan. Lalu akan jadi apa generasi kita kelak jika bangsa atau masyarakat kita memiliki pemikiran seperti ini? Budaya bangsa lain menjadi kiblat bagi anak-anak muda massa kini hingga membentuk karakter yang meninggalkan unggah-ungguh atau budaya bangsanya sendiri. Akhirnya lambat laun rasa percaya dan persaudaraan sesama bangsa sendiri menjadi hilang karena kalah dengan materialisme.
        Untuk itu kita perlu meneladani sifat atau karakter yang dimiliki oleh Pandawa Lima yang jujur, bijaksana, setia, kuat, taat dan patuh terhadap orang tua, selalu menjunjung tinggi kebenaran kemudian menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Dua karakter lain yang patut kita teladani yakni Kresna dan Satyaki keduanya adalah sahabat pendawa lima yang senantiasa membantu perjuangan tanpa pamrih, memiliki rasa kesetiakawanan dan persaudaraan yang kuat, serta mampu bersikap adil.
Share:

Postingan