(Catatan sekilas latihan musik Kiai Anom Kusumo, 23 April 2018)


Kiai Anom Kusumo, begitulah panggilan atau nama untuk mengenal grup musik ini. Tidaklah aneh, karena idiom dan pemberian nama  dengan penyebutan Kiai didepannya sudah lazim dan banyak digunakan komunitas atau kelompok lain. Singkat cerita grup musik yang terbentuk setelah pelaksanaan milad Tasawwuf Cinta ini, sebenarnya sudah ada. Meskipun dalam penamannya baru secara resmi ada setelah kegiatan milad. Terbentuk dengan beberapa personil yang sudah ahli dan mumpuni dalam bidangnya bermusik. Beda dengan saya, yang sebenarnya hanya ikut-ikutan, tapi akhirnya ketagihan. Ketagihan karena bersyukur banyak pelajaran dan teman-teman disini yang boleh saya sebut satu frekuensi, terus nandur (menanam) dan ingin belajar.
       Seperti biasanya latihan rutin menjadi agenda personil grup musik pengiring maiyahan Tasawwuf Cinta ini. Sengaja kami menyempatkan dan meluangkan waktu disetiap minggunya satu kali untuk bisa terus mengasah dan berlatih manakala disetiap bulannya ada rutinan maiyahan. Dengan mengambil waktu dimalam hari, mengingat setiap personil mempunyai aktivitas dan pekerjaan yang berbeda. Malam ini (23/4) adalah jadwal latihan untuk yang kesekian kalinya. Sekitar ba'da isya, beberapa personil termasuk saya sudah mulai merapat dimushola Al-Amin Mlinjo, tempat dimana base camp atau berkumpulnya sedulur maiyah Tasawwuf Cinta mengadakan pertemuan, musyawarah atau rutinitas lain termasuk maiyahan. Waktu itu saya yang pertama datang duluan, selang kemudian Mas Nanang (keyboardist), Mas Fian (sementara drummer, menggantikan Mas Yusuf yang berhalangan hadir), Mas Isa, dan Mas Ipul. Setelah bertemu dan bercakap-cakap sebentar, untuk mengefektifkan waktu supaya tidak terlalu larut malam segera kami mempersiapkan peralatan musiknya. Seperti biasanya, kami disetiap latihan belajar dan berusaha selalu mengulang terus setiap lagu yang akan dibawakan. Beberapa nomor lagu yang kami bawakan biasanya terdiri dari sholawatan, pop, lagu jawa, dan kekinian. Ibarat anak ayam, kami secara terus-menerus ingin selalu belajar, berbenah, dan tentunya meniatkan ini karena Allah melalui jalan musik.
        Malam ini, beberapa personil ada yang berhalangan hadir. Oleh karenanya sesuai kesepakatan, untuk malam ini kami mereview dan memperdalam lagi beberapa nomor lagu yang minggu kemarin digarap. Satu hal dari banyak hal yang membuat saya tertarik dan alhamdulillah tetap diperjalankan disini adalah tentang orang-orangnya. Terkadang saya juga ikut merasakan harunya hati melihat bagaimana sedulur-sedulur ini ikhlas tanpa ada paksaan datang jauh-jauh untuk latihan. Bahkan mereka mungkin ada yang baru pulang bekerja, beraktivitas lain namun tetap menyempatkan diri datang dan latihan. Allah lah yang menggerakkannya. Allah yang menakdirkannya. Allah yang sudah men-skenario semua. Kedua, rencana malam ini yang seharusnya untuk mengulang lagu justru dengan keyakinan sedulur-sedulur KAK, malahan dapat satu nomor lagi yang tergarap. Saya sebut nikmat juga, karena biasanya kami menggarap beberapa lagu saja untuk pengulangannya bisa 4 kali di tiap pertemuan.


    Banyak hikmah, ilmu dan nikmat yang tak mungkin tulisan saya dapat mendiskripsikannya satu per satu. Bagaimana tidak, disela-sela rutinitas yang padat untuk setiap personil, Alhamdulillah Allah SWT terus memperkenankan hadir nyengkuyung kelompok kecil ini. Kalau dihitung secara materi, apa yang mereka dapat? Tidak ada kan. Bahkan waktu mereka yang harusnya digunakan semaksimal mungkin untuk keluarga dirumah misalnya harus rela ditiadakan hanya untuk latihan. Itulah mengapa dan itulah beberapa alasan dari sekian banyaknya alasan saya bersama sedulur-sedulur ini. Allah SWT dalam Surat Ali Imran/03 : 103
"Dan ingatlah akan nikmat Allah Azza wa Jalla padamu ketika dahulu (masa jahiliyyah) bermusuh-musuhan. Maka Allah mempersatukan hatimu, lalu karena nikmat Allah menjadilah kamu orang yang bersaudara"
    Oleh karena itu, dengan niat karena Allah melalui pertalian dengan para hamba-Nya ini menjadikan kita tetap bersyukur. Bahwa dari persaudaraa, pertalian hubungan sesama saudara baik muslim dan non-muslim, menjadikan kita selalu bersyukur. Tak ada sesuatu yang sia-sia yang diciptakan Tuhan, tergantung bagaimana kita sebagai khalifahnya bisa mengelolanya dengan baik. Dan didalam kelompok ini, pertalian persaudaraan kami disambungkan melalui lantunan nada, lirik, bunyi petikan alat musik yang menyatu menjadi mozaik yag indah. Semoga keihlasan, kesabaran, dan keuletan sedulur Kiai Anom Kusumo beserta keluarga selalu terlimpahkan rahmat, hidayah dan barokah dari Allah SWT.
      Dengan membawakan dua nomor sholawatan yakni Jembar Atine dan Amemuji, insyaAllah menjadikan sedulur KAK lebih solid lagi. Bukan capaian yang kami ingin dapatkan, namun istiqomah berproses terus-menerus. Seusai latihan, kemudia dilanjut bincang-bincang sebentar pukul 00.30 kami mengakhiri latihan dan pulang. (Wawan H)
Lebih baru Lebih lama