Sinau Lakon Pandhawa Pitu

(Reportase Maiyahan Tasawwuf Cinta 6 April 2018)

Khataman Al Qur'an dan penataan lokasi
Tasawwuf Cinta edisi 6 April 2018 diadakan di pelataran sebelah barat Pesarean Mbah Kiai Abdul Jalil Dusun Patran Desa Sonobekel Kabupaten Nganjuk. Tempat yang untuk ketiga kalinya menjadi lokasi rutinan penyelenggaraan maiyahan ini selain di Mlinjo dan lokasi lain. Sebulan yang lalu penyelenggaraannya di SMK Al Khidmah Ngronggot, sekaligus lembaga pendidikan dimana salah satu penggiat Tasawwuf Cinta mengajar. Kali ini Tasawwuf Cinta berkesempatan hadir dan  diselenggarakan lagi ditengah-tengah masyarakat dusun dan melebur bersama para warga desa.
     Dibuka dengan rangkaian kegiatan di pagi harinya yakni Khotmil Qur’an menambah kekhusyukan acara. Dibawah payungan terop yang lumayan besar dan suasana siang hari di hari Jumat tak menyurutkan semangat sebagian sedulur Tasawwuf Cinta meng-khatamkan Al Qur’an dan berakhir pada pukul 14.30 WIB. Selanjutnya di sore harinya dilanjutkan perampungan persiapan dan penataan lokasi termasuk penataan sound system acara.

penataan lokasi maiyahan

       Seusai sembahyang maghrib beberapa penggiat mempersiapkan penataan stand lokasi. Salah satunya Mas Amin dan Mbah Din langsung ikut menata jejeran beberapa lakon pewayangan layaknya pagelaran wayang sesungguhnya, sungguh ibarat Punakwan yang selalu menyertai para Ksatria dimanapun, kapan pun berada.

      Setelah sholat isya, satu persatu jamaah baik dari warga dusun maupun dari sedulur Tasawwuf Cinta. Lalu seperti biasanya sebelum acara dimulai, di maiyah TC diawali dengan mulai berdatangan.Suasana yang kondusif terlebih cuaca yang terang kali ini memberikan angin segar bagi kami para penggiat untuk lebih awal mempersiapkan maiyahan. Tepat pukul 20.00 WIB, sinau bareng atau maiyahan ini dimulai. Pembukaan langsung oleh Mas Isa Anshori sekaligus memoderatori acara. Pertama-tama, Mas Isa menyampaikan terimaksih kepada para warga dusun tentunya sudah diterimanya dan atas ikut nyekuyungnya  acara melalui hadirnya dalam maiyahankali ini. Suasana kekaraban tergambar, membaur menjadi satu. Baik tua, muda, bahkan anak-anak tak luput bersama-sama ikut duduk melingkar. Seperti biasanya sebelum acara dimulai, di rutinan ini diawali dengan tahlilan dan tawasul kepada leluhur baik yang sudah sumare (wafat) maupun yang belum agar selalu dilimpahkan kesehatan fiddunnya wal akhirat. Tahlilan langsung dipimpin lagsung oleh Kiai Fatkur, selaku imam juga di masjid dusun Patran. Kiai Fatkur juga menyampaikan terimakasih kepada segenap sedulur maiyah sudah bersedia menyelengarakan acara maiyahan, kalau orang desa masih kental dengan nama pengajian meskipun formatnya tidak formal. Beliau menyampaikan bahwa menata umat itu berbeda-beda. Semoga dengan acara maiyah ini dapat menambah barokah atau peng-amalan para sesepuh atau ulama, dapat rukun bersatu melalui acara ini.
         Kemudian setelah acara tahlilan selesai, dilanjut oleh salah seorang jamaah sekaligus pengurus  makam. Beliau menanyakan kepada jamaah sekaligus warga patran, apakah dengan terselenggaranya acara ini remen (suka) atau tidak? Beliau menyampaikan bahwa kegiatan yang diselenggarakan disebelah Pesarean (makam) Patran tidak hanya dilihat oleh kita yang masih sugeng (hidup) didunia. Tentunya para sesepuh yang sudah meninggal juga ikut menyaksikan kita yang hidup didunia. Menurut beliau, mereka yang sudah dimakamkan tentunya senang bahwa anak cucunya sudah bersedia mendoakan dan mengadakan suatu forum, kumpulan atau majelis yang bermanfaat.
       Sebelum memasuki tema, untuk mengisi jeda diisi langsung oleh Kiai Anom Kusumo dengan melantunkan beberapa wirid dan sholawat yakni Shohibu Baity dan Anfus Salam. Perlu diketahui, Kiai Anom Kusumo sendiri, terbentuk belum lama. Personilnya pun dari berbagai kalangan. Ada yang sudah berkeluarga, jomblo ataupun masih sekolah. Salah satunya vokalis cewek yang baru bergabung didalamnya, Mbak Novi dan Mbak Sari yang masih duduk dibangku SMA.
     Setelah itu dilanjut lagi oleh Mas Isa dengan membuka tema kali ini dengan menyampaikan sedikit gambaran sekilas tentang maiyah. Maiyah itu bukan pengajian, bukan pula suatu forumnya kelompok tertentu yang mempunyai pengikut sebagaimana banyaknya pengajian pada umumnya yang ada. Di maiyah orang bebas ikut, tidak memandang agamanya apa, bagaiaman strata sosialnya dimasyarakat bahkan dimaiyah orang bebas mengemukakan pendapatnya asalkan punya batasan dalam penyampaian dan kadar yang dimiliki.Mau merokok atau tidak, ngopi atau tidak, mau pakai celana jeans atau sarungan semua dipersilahkan asalkan menutup aurat begitu tuturnya.  Di maiyah semuah ditampung, semua sama-sama masih belajar, sinau bareng dan saling mengamankan satu sama lain baik harga diri atau martabat, nyawa dan harta. Oleh karenanya, semua didasari atas niatan karena cinta kita kepada Allah dan Rosululloh dan semua itu secara terus menerus diistiqomahi.
         Kemudian tibalah pada pembacaan prolog yang sekaligus disampaikan oleh Kang Wisanggeni. Beliau menyampaikan prolog ini sebagai narasi pembuka kepada pintu maiyahan yang akan dilanjut oleh marja' maiyah Tasawwuf Cinta. Sebelumnya para jamaah juga diajak melantunkan lagu kebangsaan "Indonesia Raya" sebagai bentuk Hubbul Wathon, cinta tanah air dan bentuk ungkapan syukur atas segala nikmat yang dikaruniakan Allah SWT.

*****

    Memasuki sinau bareng kali ini dan Pak Bustanul Arifin sudah hadir ditengah-tengah jamaah dan kemudian dilanjutkan oleh beliau. Beliau pertama-tama menyampaikan beberapa keterkaitan tentang tema kali ini dengan beberapa lakon wayang yang lain. Beliau menyampaikan bahwa Pandhawa Pitu (Pandhawa Tujuh) bukan cerita sebenarnya, atau disebut dengan cerita carangan. Oleh para pendahulu, wali dan sesepuh dahulu cerita tersebut dilebur menjadi sebuah ilmu ataupun media dalam men-syiarkan tauhid dan islam kepada masyarakat. Tekait dengan Pandhawa salah satunya yakni Prabu Kresna, bahwa konon di kepalanya ada sesuatu disebut dengan Narendra tanpa Makutho (Ratu tanpa Mahkota). Berbeda dengan Harimurti atau Prabu Kresna yang mempunyai mahkota. Kresna artinya anak, kalau Krisna artinya hitam. Puntadewa (Fa'anta dawaun), bahwa ayat yang dibaca ada 3 yakni Bismillah, ArRahman, Ar Rahim. Allah itu juga namanya Allah,Ar Rahman juga asmanya Allah, Ar Rahimjuga asmanya Allah. Dalam surat Al'Araf disebutkan : Wabillahi Asmaul Husna, Fad'uhu Biha. Allah itu mempunyai asma yang baik, maka berdoalah dengan lantaran asma-Nya. Maka kalimat tauhid yang dabawakan di mustaka (kepala) Puntadewa adalah kalimat syahadataini. Sedang orang jawab kurang teteh (lancar) dalam mengatakan kalimat syahadat maka disebut lah Kalimasada kalimat yang digunakan Wusadane Loro Ati (menghilangkan sakit hati). Oleh karena menyebutlah Bismillah. Bahwa tidak ada ayat apa-apa yang diturunkan oleh Allah SWT pertama kali kecuali bismillah. Untuk mencairkan suasana Pak Bus mengajak melantunkan lagu yang biasa didengar oleh jamaah berjudul Bismillah. Kalau ada orang membaca bismillah tidak bergetar hatinya, maka perlu dipertanyakan keimanannya dihadapan Allah. Sedangkan kalimat syahadat di dalam diri kita ada 3 yakni : Iman, Islam dan Ihsan. Oleh karenanya Brotoseno meskipun sudah diberi ilmu lebih banyak daripada wayang dan lakon lain namun tetap tidak menampakkan atau menonjolkan dirinya. Makanya Brotoseno menjadi Soko dari Pandhawa. Bila dikaitkan dengan Hadist Rosululloh SAW, "Ashsholatu 'Imaddudin Faman Aqomaha Faqod Aqmaddin, Waman Hada Faman Faqod Hada Maddin". Siapa yang meninggalkan sholat, maka seluruh amalnya tertolak atau tidak diterima. Sungguh rugilah orang-orang yang meninggalkan sholat, dan mereka yang medirikan sholat adalah mereka yang mendirikan tiang agama Allah.Sebelum menutup pemaarannya, Pak Bus mengajak jamaah untuk melantunkan lagu jawa "Pepeling". Semoga senantiasa dapat menjadi pengingat bagi kita semua.


*****

          Pada sesi berikutnya, Gus Nafan yang sudah hadir sejak tadi ikut memberikan paparan terkait tema ini. Beliau memulainya dengan melemparkan pertanyaan kepada para jamaah tentang Tasawwuf Cinta. Terkait nama simpul, beliau mengkerucutkan dengan bertanya, tasawwuf itu teori atau perilaku? Para hadirin ada yang diam, dan ada ada serempak menjawab bahwa tasawwuf adalah sebuah perilaku atau lelaku. Gus Naf'an menjelaskan bahwa tasawwuf  merupakan poin yang paling penting. Karena ilmu tasawwuf adalah ilmu yang langsung diturunkan dari lelaku Rosululloh dan alim ulama yang saat ini sudah dibukukan. Ada yang paham teori tasawwuf namun perilakunya tidak bertasawwuf ini menjadi tidak seimbang. Bahkan mereka yang tidak paham teori tasawwuf, namun secara lekaku mampu berlaku tasawwuf ini juga bisa ber-tasawwuf. Beliau menyampaikan kalau mereka yang sufi adalah mereka yang hidupnya benar-benar niatan karena Allah. Melakukan dan mengamalkan segala lelaku Rosululoh dan alim ulama dengan didasari rasa cinta pada sesama, oleh karenanya disebut Taswwuf Cinta, menurut pemahaman beliau. "Wabtaghi fima atakallah Dar al Akhirah, wala tansa nasibaka minaddunya". Oleh karena dijaman Rosululloh tidak ada pembukuan atas ilmu baik secara syariat, thariqat, marifat bahkan hakikat. Semua itu terjadi dijaman para ulama, salafus shalih, dan sahabat. Makanya kita mengenalnya sekarang ada banyak kitab dan keilmuan yang sudah dibukukan, seperti karya Imam Al Ghazali, Ibnu Athaillah, dan lainnya.
Gus Naf'an Shalahuddin
Dalam kaitannya Tasawwuf Cinta beliau menyampaikan bahwa acara yang komplit ada pengajian, musik dan wayang menjadi satu dan komplit. Beliau menyampaikan bahwa acara seperti Tasawwuf Cinta kalau dinilai dari nominal pasti membutuhkan dana yang besar. Tapi karena niatan utama terselenggara karena Allah sehingga dalam pelaksanaan setiap maiyahan Alhamdulillah selalu dimudahkan. Kalau dalam Pandhawa yang sering kita dengar, lakon Pandhawa ada lima. Mengapa ada tujuh? Beliau mengambil hikmah bahwa setiap kita datang ke Tasawwuf Cinta insyaAllah mendapatkan ilmu, dan wawasan baru. Tujuh disini dimaksudkan adalah ijtihad atau kreasi dalam kaitannya ibadah diluar mahdoh. Makanya patutnya Tasawwuf Cinta dari Nganjuk semoga menjadi pelopor dari majelis yang menyejukkan karena terus tersambung oleh hidayah Allah. Ketika para jamaah sudah lama dan banyak mendengarkan pemaparannya, beliau sejenak mengajak jamaah untuk bersholawat sekaligus mengisi ruang kalbu agar selalu tersambung dengan Allah dan kanjeng Nabi Muhammad SAW.
       Berlanjut setelah itu, beliau menyampaikan terkait forum maiyah yakni terkait hidup didunia. Hidup didunia ini adalah proses menanam (nandur) "Addunya Mazroatul Akhirah". Oleh karenanya, didunia ini adalah masa dimana menanam, sedangkan panennya adalah di akhirat. Semua yang akan engkau peroleh di akhirat adalah apa yang kau tanam didunia. Mengapa berbeda, karena kalau ibadah pribadi, segala sesuatu yang akan diperolehnya juga pribadi. Sedangkan kalau dilaksanakan dengan jamaah, panen kelaknya pun akan jamaah. Oleh karena itu ada semacam dialektika atau statement yang secara terus menerus kita cari hikmahnya, mengapa sholat dianjurkan dengan berjamaah. Makanya dalam ibadah jama'i (jamaah)  dan ibadah pribadi menurut beliau berbeda kaitannya apa yang diperoleh kelak. Hidup didunia carilah baiknya, sehingga lambat laun energi negatif yang akan tumbuh dalam dirimu akan terkikis.
      Lebih luas lagi beliau mengajak jamaah untuk berpikir kritis, terkait dengan problema yang sedang dan akan dihadapi. Baru-baru ini adalah terkait pemilihan umum yang sudah banyak terjadi dengan segala macam dialektika politis dan kampanye dimana-mana. Lantas dimana letak kita saat itu? Gus Naf'an mengajak jamaah untuk tidak terpengaruh dan tetap terjaga pada kesadaran akan diri kita. Sehingga jamaah yang hadir dapat secara luas dan obyektif melihat lebih dalam dan tidak mudah terpengaruh sehingga nge-blok sana sini dan akhirnya bermusuhan. Beliau meneguhkan dan mengharapkan jamaah yang hadir untuk langgeng dan gayeng dalam suasana paseduluran (persaudaran) yang kuat dan niat karena ALlah Ta'ala. "Khoiru ummi ausatuha" Segala sesuatu yang baik adalah yang ditengah. Oleh karena kita hidup harus dengan penglihatan yang luas, sehingga tidak kaku dan mudah terpengaruh. Untuk menutup pemaparan dari beliau, Gus Naf'an mengajak jamaah sekali lagi bersholawat "Sholli Wasalimda"

*****

         Sebelum membuka sesi tanya jawab Mas Isa memberikan kesempatan kepada Kang Budi yang telah menerima beberapa lembar teks yang berisi puisi, dibuat oleh Pak Mahmud yang kali ini berhalang hadir. Judul puisi tersebut adalah "Jabatan dan Rutan". Mas Isa meng-elaborasi bahwa puisi tersebut adalah sebuag pepeling (pengingat) bagi kita tentang keterkaitan jabatan dan rutan. Bahwa jabatan adalah titipan yang akan pasti dipertanggungjawabkan.
       Gerakan waktu menunjukkan pukul 00.30, Mas Isa membuka sesi maiyahan kali ini dengan tanya jawab kepada jamaah tentang tema maupun lainnya. Mas Hendrik, selaku penggiat Tasawwuf Cinta menyampaikan tambahan terkait tema. Dimana pada cerita menjelaskan bahwa Pandhawa dimanapun berada senantiasa ditemani oleh Prabu Kresno. Kalau ditarik garis ke simpul Tasawwuf Cinta, cerita tadi dianalogikan dengan perjuangan sedulur Tasawwuf Cinta. Mas Hendrik berharap semoga Tasawwuf Cinta dengan seluruh sedulur dan penggiatnya senantiasa ditemani (dikancani) oleh para sesepuh, laksana ksatria yang senan tiasa ditemani oleh Punakawan.
      Merespon dari pernyataan Mas Hendrik tadi, Pak Busmenjelaskan bahwa cerita Pandhawa Pitu (Pandhawa Tujuh) adalah sebuah konspirasi, dimana pada saat itu Duryudana berada pada dua pilihan. Yakni disuruh memilih Dwarawati atau Kresna. Pilih Mandura apa Baladewa. Apa yang terjadi? Duryudana lebih memilih Dwarawati dan Mandura. Karena kondisi menjadikan seperti itu pecahlah perang Bratayudha Jaya Binangun. Pada saat perang, Pandhawa menggunakan strategi Garuda Nglayang. Yakni burung Garuda yang mempunyai tiga paruh (cucuk) dimana ketiga paruh tersebut adalah Senopati. Selanjutnya ketika pada saat perang agar terlihat banyak pasukannya oleh  pihak musuh, Prabu Kresna menggunakan strategi Bulan Sabit untuk mengelabuhinya. Hikmah yang dapat diambil dari tema sekaligus cerita kali ini adalah tentang kesetiakawanan.
     Waktu sudah menunjukkan pukul 01.00 dan maiyahan kali ini disudahi dengan pembacaan sholawat indal Qiyam sambil bersalaman seperti biasanya. Nuansa dan kebahagiaan yang akan tetap dirindukan yang insyaAllah akan berlanjut pada bulan depan.
Saling bersalaman seusai acara selesai

     
     
       
         
Share:

Postingan