Header Ads

Header ADS

Belajar dari Konsep Sedia Kafan Dirumah

(Catatan Majelis Ilmu Tasawwuf Cinta Mei 2018 - Bagian 2)

Pada sesi selanjutnya, Mas Isa memperkenankan Pak Mahmud yang juga termasuk seseorang yang senantiasa membersamai sedulur maiyah Tasawwuf Cinta berjuang. Pada awal membuka pemaparan maiyah malam ini, Pak Mahmud mengungkapkan bahwa beliau terkesan saat mendengar satu nomor lagu yang barusan diperdengarkan yakni "Jembar Atine" oleh Kiai Anom Kusumo. Beliau mengungkapkan bahwa kalau kita jembarkan (luaskan) hati ini, ibarat segara (lautan) seberapapun banyaknya kotoran dan sampah yang ada tak akan merubah air laut. Begitu pun perjalanan kita mengantarkan kita bersama Allah SWT, bahwa selagi kita tetap berpegangan dengan tali-Nya Allah rintangan, cobaan sebesar dan seberat apapun tidak akan menggoyahkan niat, hati dan iman kita. 
          Berangkat dari hal itu, Pak Mahmud mencoba menjelaskan beberapa pokok diskusi yang tempo hari di Mushola Lawas tepatnya di daerah Kecamatan Baron. Beliau mengungkapkan bahwa pada tradisi masyarakat yang ada dan sedang berlangsung dimana beliau tinggal ada satu hal yang mungkin unik. Namun apa yang didapatkan? Yakni justru ilmu, pelajaran dan hikmah yang sangat berharga. Pak Mahmud menyembutnya dengan Manajemen Kematian. Apakah yang dimaksudnkan oleh beliau? Manajemen kematian sebetulnya merupakan suatu langkah dimana hal tersebut lebih mengarah pada kemanfaatan untuk mengingatkan diri akan selalu pada kematian. Oleh karenanya konsep kain kafan menjadi alternatifnya.
       Secara tidak langsung, setiap keluarga yang menyediakan kain mori (kafan putih) dirumah nantinya sewaktu-waktu apabaila sanak keluarga atau tetangga yang meninggal dunia dapat menjadi alternatif baik dikasihkan secara sukarela atau diganti dengan nominal uang seharga kain kafan tersebut. Kalau dalam bahasa jawa "njagani" apabila sewaktu-waktu dengan mendadak  kejadiannnya apalagi pada malam hari tentu pihak keluarga yang ditinggalkan akan kebingungan dan keepotan. Oleh karena itu solusi itulah menjadi jawabannya.
           Kedua, mengingat menimbang dan memutuskan bahwa usia manusia tidak ada yang tahu. Sekaligus sebagai pengingat bagi diri sendiri juga. Ketiga apabila ada kematian seseorang hendaklah kita grapyak (tanggap), siap sedia membantu sesuai dengan kapasitas dan kemampuan kita. Janganlah sampai menunggu untuk disuruh.Mengingat kematian itu saja akhirnya kita akan mencoba lebih jauh lagi mengingat ke alam barzah dan selanjutnya. Seberapa lama didalam alam barzah? Seberapa kita akan melewati masa-masa itu? Pertanyaan yang akan terus membayang dan pasti akan kita lalui.
         Lepet-lepet tali janur, Andum slamet panjang umur. Begitu Pak Mahmud menyudahi paparannya malam itu dilanjutkan dengan sejenak penampilan Kiai Anom Kusumo.


Diberdayakan oleh Blogger.