(Catatan Sekilas Persiapan Maiyahan Tasawwuf Cinta Edisi Mei 2018)

Pagi ini (9/5) sejak pertemuan kemarin malam beberapa jam setelah acara rutinan tawasulan dan ngaji kitab Al Hikam, para pejuang dan penggiat maiyah Tasawwuf Cinta sudah beraksi lagi dalam balutan rangkaian maiyahan malam ini.  Seperti rutinan biasanya, beberapa penggiat sudah mruput dengan kegiatan Khotmil Qur'an. Acara yang sudah berlangsung lebih dari 3 kali ini, Alhamdulillah masih istiqomah berjalan. Khotmil Qur'an ini sebenarnya sudah menjadi agenda rutinan sebenarnya, namun ada hal yang perlu dijaga. Sama halnya dengan kegiatan lain yang sifatnya memberikan manfaat dan guna tidak hanya pada personal, tentu akan dilakukan dengan telaten dan istiqomah.

      Beberapa penggiat yang mempunyai waktu sedikit longgar pagi ini perlahan merapat. Ada sedikit hal yang saya tangkap berbeda dari biasanya. Karena rangkaian maiyahan kali ini juga berbarengan dalam satu rangkaian waktu disetiap harinya. Bukan karena sok sibuk atau menyibukkan diri, namun alamiah. Para penggiat pun juga baru menyadari kalau rentetan kegiatan baik maiyahan bulanan dan diluarnya berada dalam satu minggu. Anda pasti membayangkan bagaimana lelahnya fisik dan tenaga yang terkuras. Karena aktivitas yang bisa dilakukan sedulur maiyah Tasawwuf Cinta kebanyakan pada malam hari dan dipagi harinya melakukan rutinitas ada yang bekerja, berdagang dan lainnya.
       Siang harinya setelah selesai Khotmil Qur'an dan Sholat Dhuhur, saya dan dua penggiat lainnya berbagi tugas. Mas Hendrik yang sejak dari kemarin selama dua hari bergelut dengan padatnya rutinitas kini kebagian tugas mempersiapkan konsumsi. Tanpa diminta pun setiap kali rutinan selalu ada rezeki yang tak terduga. Faktanya, salah seorang penggiat TC disaat khotmil Qur'an berlangsung tanpa diminta justru dengan ikhlas lillahi Ta'ala membawakan dua "kresek" besar merah berisi pentol bakso yang siap ditusuk seperti sate. Tugasnya Mas Hendrik untuk mengolahnya. Giliran persiapan wayang, dimana tiap kali maiyahan selalu menggunakan metode pewayangan, Mas Fian yang sejak dari tadi siang saya jemput tak menunjukkan kelelahan sedikit pun. Beliau malah mengupayakan memimnjamkan dua wayang yang akan ditokohkan dalam rutinan kali ini, namun si empu pemilik wayang tidak mengijinkan. Walhasil, tanpa bingung sana-bingung sini, Mas Arif yang sedari tadi pulang dari kerja langsung menghampiri dan mengajaknya mencetak dua tokoh wayang dengan bahan kertas. Meskipun pada akhirnya, wayang yang sedari awal tidak bisa dipinjam oleh Mas Fian bisa dinegoisasikan oleh temannya. Sampai akan beranjak magrib, barulah kita pulang sebentar lalu kembali lagi untuk persiapan rutinan.

     Saya melihat butiran-butiran keikhlasan di raut wajah mereka meski nampak kelelahan.  Bukan malah menjadi penyulut untuk bermalas diri, tapi dibalik kelelahannya tersimpan semangat untuk nyengkuyung, gotong royong semaksimal dan semampu dulur-dulur ini. Saya salut, karena kalau bukan Allah SWT yang menggerakkan lantas siapa lagi. Semoga Allah selalu menguakan dan senantiasa menjaga mereka. Karena keikhlasan yang tulus tak akan terbayar dengan segunung harta dan materi yang bergelimpangan. (Wawan H)
Lebih baru Lebih lama