Dalam setiap melakukan sesuatu itu selalu ada pendorongnya yang hal tersebut bisa dari keinginan atau karena tuntutan nilai atau aturan yang berlaku atas diri seseorang. Bisa jadi aturan keluarga, tempat kerja, masyarakat, negara dan lain-lain. Dan di samping itu setiap diri selalu punya kewajiban juga mempunyai hak, nah ketika bicara hak atau wewenang inilah kita harus tau batasan jangan sampai melewati batasan atau istilah orang Jawa biasa di sebut "MANYAK" karena tentulah hal itu akan punya dampak negatif yaitu merugikan diri sendiri dan orang lain. Maka pengetahuan tentang batasan2 itulah justru yang akan membuat manusia itu menemukan kemerdekaan sejati yang akan membahagiakan dirinya sendiri maupun orang lain.
        "MANYAK" bisa diartikan sebagai hal yang tidak senada dengan jalur atau pakem yang sudah ditentukan. Namun hal itu justru sering mendapat respon negatif, karena segala struktur dan gerak dari kata  "MANYAK" itu sendiri menimbulkan perspektif dan cara berpikir yang negatif.
           Apabila dilihat dari sudut batasan ,banyak sekali yang dapat dielaborasi. Sesuatu menjadi terbatas atau mendapat perlakuan atas batasan tersebut tentunya karena prinsipiil dan prosedur mengharuskan tunduk pada apa saja yang diperbolehkan dan apa saja yang patut dihindarkan. Misalnya saja, puasa. Secara pandangan lahiriah dan secara awam mengenalnya, puasa dimaknai sebagai proses meninggalkan kegiatan makan, minum, menjaga syahwat dan tidak melakukan segala hal yang membatalkannya dari terbit fajar sampai terbenamnya matahari. Dalam makna yang lebih kompleks dan dalam lagi sebagaimana yang pernah disampaikan Mbah Nun, puasa adalah anda berhak melakukan atau memilih untuk "tidak" atas segala sesuatu yang sewajarnya "ya". Atau sebaliknya engkau mengambil keputusan untuk "ya" terhadap sesuatu yang halal untuk"tidak" Sedangkan dalam konsep kehidupan, kita dikenalkan pada istilah "urip kudu pinter nge-gas lan nge-rem". Hidup harus pintar, jeli dan mengerti kapan nge-gas kapan nge-remnya.
            Titik temu atau benang merah yang terjadi kita akan menemui satu persimpangan dimana "MANYAK" akan bertemu dengan istilah batasan. seperti yang diuraikan diatas. Sehingga dalam keilmuan dan peristiwa apapun, nabi Muhammad SAW saja memberikan teladan dan sikap kepada kita untuk bisa seimbang, ora luwih, ora kurang.
            Oleh karena itu, perlu dijabarkan dan dikupas dengan bahasa yang mudah dipahami oleh awam. Senyampang dengan hal tersebut, bulan ramadhan masih berada dipertengahan jalan. Alangkah indahnya bila kita terus belajar dan sinau dan ngaji bersamaan. Tasawwuf Cinta kali ini menempati Pesarean Mbah Kyai Abdul Jalil Patran untuk ke-empat kalinya.
Lebih baru Lebih lama