(Catatan Majelis Ilmu Tasawwuf Cinta Mei 2018 - Bagian 1)



Sore menjelang dan matahari pun mulai tenggelam, menapaki perjalanan magrib semakin terkembang. Bersamaan itu, kala sore harinya persiapan sudah giat dilakukan, sound system pun sudah datang dan tertata, giliran penggiat Tasawwuf Cinta yang lain nampak mulai mempersiapkan alat musik dan menggelar tikar untuk malam ini. Dalam kesempatan ini, maiyahan Tasawwuf Cinta kembali bertandang ke base camp maiyah Tasawwuf Cinta sendiri, yakni di Mushola Al Amin Mlinjo.
          Tepat sekitar ba'da isya', penggiat dan beberapa jamaah sudah mulai berdatangan. Sembari detak dan gerakan jarum jam menunjuk pukul 19.30 WIB,  Kali ini tepat pukul 20.00 WIB, Mas Isa yang biasa memulai acara, kini sementara waktu digantikan oleh Mas Tri Santoso. Sebelumnya, untuk mengisi setengah jam kekosongan waktu, Kiai Anom Kusumo dipersilahkan untuk melantunkan beberapa nomor lagu sekaligus pemantapan sound system. Setelah itu dilanjutkan dengan sejenak melantunkan wirid maiyah yang pada beberapa hari sebelumnya juga sudah diperdengarkan bersama sedulur maiyah Tasawwuf Cinta selepas kepulangan dari Ziarah Mbah Wali.
Puncaknya yakni melantunkan Indal Qiyam bersama-sama disertai dengan posisi semua hadirin diperkenankan ikut berdiri.

Setelah lantunan wirid maiyah selesai, Mas Isa sedikit memaparkan bahwa di dalam maiyah sendiri tidak asing akan wirid, hizb, atau sholawat. Selain wirid munajat maiyah, masih ada wirid lain yang dikenal oleh orang maiya antara lain : wirid penjagaan, wirid wabal, dan lainnya. Wirid ini menurut beliau adalah alat untuk selalu tersambung dengan Allah. Kaitanna dengan wayang, Mas Isa juga menjelaskan mengapa tema yang diambil selalu menggunakan idiom atau bahasan wayang. Pada dasarnya wayang itu adalah suatu cerita , nasehat (tuladha) sebagaimana orang jawa. Makanya pada zaman dahulu cerita wayang mengilhami cerita masyarakat jawa. Seperti halnya di ukiran-ukiran candi, kalau kita tahu juga tersirat ukiran yang sebenarnyamerupakan barisan cerita mengenai zaman tempo dulu.
       Sedikit menceritakan prolog tema kali ini, yakni Kamajaya. Kamajaya adalah salah satu tokoh yang terkenal dengan ketampanannya berpasangan dengan Kamaratih. Kalau dalam cerita Nabi dahulu, bisa mengambil contoh nabi Yusuf dan Siti Zulaikha, begitu tuturnya. Kalau dalam kebudayaan jawa, hal itu melebur menjadi tradisi pada saat piton-piton bayi. Dimana pada cengkir-nya yang sebelum masak dan besar menjadi kelapa, biasanya diukir tokoh kedua wayang tersebut. Dengan harapan, agar kelak ketika si jabang bayi lahir bila laki-laki bisa setampan Kamajaya. Sebaliknya juga jika yang lahir perempuan kelak cantik seperti Dewi Ratih atau Kamaratih.
       
Lukisan Wayang Kamajaya dan Kamaratih pada cengkir kelapa
Sumber :https://kesenianadatdaerah.blogspot.co.id
          Oleh karenanya media wayang ini digunakan sebagai sarana dakwah oleh para wali pendahulu, guna menyebarkan agama islam. Selaras dengan hal itu, Tasawwuf Cinta mencoba mengkreatifi dengan setiap mengambil tema menggunakan tema wayang agar kebudayaan dan tinggalan para ulama dulu tidak lantas musnah dan hanya menjadi rengeng-rengeng cerita yang hambar. Namun tetap kita cari dan kaitkan dengan melihat kondisi kehidupan saat ini. Kaitan dengan Maiyahan ali ini mas Isa kembali mengingatkan dengan menyitir dari salah satu dawuh (pesan), bahwa sing sopo wonge berjuang ning maiyah, InsyaAllah wong kasebut disertani kalihan Allah SWT lan bakal dicukupi uripe (Siapapun orang yang berjuang didalam maiyah, InsyaAllah orang tersebut akan selalu disertai oleh Allah SWT dan akan dicukupkan hidupnya oleh Allah).

           Menutup pemaparan tentang prolog, Mas Isa juga menyampaikan bahwa setelah Ziarah Mbah Wali kemarin, Tasawwuf Cinta diperkenankan oleh Allah menemukan format atau kerangka baru yakni seperti kita ketahui bahwa ketika ziarah pada awamnya fokus pada acar ziarah. Berhubung kita (Tasawwuf Cinta) sudah terdaftar atau tercantum sebagai salah satu simpul maiyah Nusantara, disela acara ziarah diselipkan dan diniatkan dengan rangkaian silaturahmi dengan sedulur terdekat dengan lokasi ziarah yang sedang dituju. Misalnya : kemarin pada saat Ziarah di Kudus berkesempatan bersilaturahmi dengan sedulur SEMAK (Sedulur Maiyah Kudus) dan saat di Demak bersilaturahmi dengan sedulur simpul maiyah Kalijagan. (Wawan H)


Lebih baru Lebih lama