Adzan magrib telah dikumandangkan dan pujian-pujian sholawat telah dilantunkan disurau barat rumah. Waktu tepat dimana jarum jam tegak lurus menunjuk angka 6 dan 12, saatnya iqomah disegerakan dan tibalah masa magrib dihari ini. Selang kemudian setelah sembahyang magrib telah ditunaikan, saya kembali ke rumah sambil berjalan teringat jeck colokan charger kemarin malam tertinggal di Mushola, base camp sedulur maiyah Tasawwuf Cinta tiap berkumpul. Pasalnya saya njagani disaat kemarin ada kumpul bareng sinambi bermunajat, mewiridkan beberapa wirid maiyah dan merenungi tepat pada malam nisfu sya'ban kalau hape saya sering lowbat. Baru teringat malam harinya ketika sudah sampai rumah, kalau meninggalkan jeck colokan masih menancap. Akhirnya tanpa pikir panjang, bergegaslah saya untuk mengambilnya. Sampainya disana ada dua sedulur Tasawwuf Cinta sudah gleyeh di mushola. Mas Fian dan Mas Hendrik yang ternyata sudah sejak sore tadi disana. Bilangnya juga habis latihan nuthuk saron yang diperolehnya dari sedulur Kiai Bagus Kediri. Bincang-bincang sebentar dan ternyata pula mereka sedang menunggu kawan untuk menemani mengambil dua set lempengan tembaga saron dirumah salah seorang personil Kiai Bagus, Pak Muh mereka memanggilnya. Akhirnya tanpa basa-basi, bergegaslah kami bertiga dengan menunggangi kuda besi masing-masing. Dan saya bersama Mas Fian saat itu.
       Perjalanan yang lumayan juga dari lokasi berangkat ke arah selatan, tepatnya di daerah Tegaron Kecamatan Prambon kami santai pelan namun juga laju menuju rumah Pak Muh. Masuk gapura Desa Tegaron, awalnya Mas Hendrik memarkirkan berhenti dan memarkirkan kendaraan ditepat depan semacam warung makan. Saya kira disitu tempatnya, ternyata berhenti beli rokok sambil basa-basi tanya dimana rumah Pak Muh. Seorang ibu pemilik warung menunjukkan, kalau yang lebih dikenal itu istrinya, Mbak Sus namanya. Pelan-pelan kami berkendara sambil masih mencari juga rumah Pak Muh. Sejenak berhenti didepan toko, dan mas Fian mencoba bertanya pada seorang bapak yang sedang duduk di teras. Saya pikir nggeh warga sekitar saja, tak disangka ternyata Pak Muh. Beliau bilang dan mengerti sebenarnya kalau kami tadi dipikirnya kok bablas saja ke arah barat. Walhasil,belum tau rumah beliau ternyata. Lantas kami dipersilahkan masuk ke dalam rumah.
         Dirumah beliau kami dipersilahkan duduk, dan sejenak bincang-bincang terkait beliau. Lantas beliau kebelakang sebentar sambil membawakan beberapa lempengan tembaga yang akan diberikan kepada kami. Perlu diketahui, perkenalan sedulur Tasawwuf Cinta dengan Kiai Bagus memang terjalin lama. Setahu saya saat itu pada Milad 1 tahun Tasawwuf Cinta mengundang Kiai Bagus untuk mengisi dan mengiringi acara malam itu. Berlanjut dengan silaturahmi dan akhirnya saling kenal satu sama lain. Dirumah beliau, kami ditunjukkan dua set lempengan tembaga untuk alat musik gamelan saron. Tanpa canggung beliau langsung memberikan arahan dan tips terkait bahan, penataan dan cara memainkan. Dikerumuni dua putra beliau yang masih kecil dan imut itu, kami diperkenankan tahu dan paham akan bagaimana memusikkan gamelan saron. Mas

Lebih baru Lebih lama