Header Ads

Header ADS

MANYAK : Sinau Batas di Segala Dimensi

(Catatan Majelis Ilmu Tasawwuf Cinta Juni 2018)



Gelaran maiyahan kali ini berlanjut di bulan Juni tepat pada tanggal muda, sekaligus masuk di bulan Ramadhan. Pada penyelenggaraannya kali ini tak ubahnya sama seperti di bulan sebelumnya diluar Ramadhan. Semangat dan antusiasme dari penggiat masih tetap terjaga, meskipun terik panas siang tak terelakkan. 
    Pagi itu, (2/6) untuk mengawali rangkaian acara maiyahan biasanya para penggiat mengadakan Khotmil Qur'an. Dusun Patran kembali berkesempatan untuk didolani, disambangi untuk yang ke empat kalinya. Berada di Pesarean Mbah Kyai Abdul Jalil, sekaligus Pesanggrahan Mbah Din (sesepuh Tasawwuf Cinta) tinggal. Bermodelkan seperti padepokan dengan desain rumah panggung, terbuat dari komponen bambu dan kayu menghadap ke barat di sebelah utara depan makam menjadi saksi dan menemani ikhlasnya sedulur penggiat yang masih menyempatkan waktunya nyengkuyung acara. Ayat demi ayat, surat demi surat dan berlanjut per juz didalam Al Qur'an mulai dibacakan. Memasuki waktu sore harinya, sekitar pukul 16.00 WIB, beberapa penggiat lain mulai mempersipakan perlengkapan pendukung rutinan. Dikomandoi Mas Hendrik dengan tunggangan Grand Max nya mulai nyicil alat musik dan beberapa tikar untuk diangkut ke lokasi. Dengan topografi dan letak geografis yang masih kental dengan budaya desa, tak jarang kita temui masih terhamparnya pematang persawahan dengan jalan kecil masuk ke dalam, perlahan bergerak untuk segera sampai kesana.Tepat sampai disana, peralatan sound system juga sudah sampai. Lengkap sudah segala prasarana fisik pendukung, segera oleh penggiat di tata.
    Sore menjelang hingga larut adzan magrib berkumandang, persiapan sudah mulai dimantapkan. Dari menggelar tikar, sampai penyediaan konsumsi dan camilan saat sinau bareng sudah mulai dilakukan. Tak segan memang, beberapa murid Mbah Din termasuk mas Slamet juga ikut membantu. Ba'da isya dan sholat tarawih, masyarakat sekitar Patran sudah mulai berjalan menuju lokasi. Gesekan sandal menjadi alunan indah dan saksi bisu atas utuhnya niat mengikuti majlis yang mereka rasa ada manfaatnya. Ibu-ibu, Bapak-bapak sampai yang kecil pun tak segan ikut bergabung.
     Sekitar pukul 20.45 WIB acara segera dimulai dengan penampilan beberapa nomor lagu oleh Kiai Anom Kusumo. Dari nomor Illahilastulil Firdaus dan Laukana, sejenak mengisi kekosongan sebelum acara dimulai. Setelah itu untuk mempersingkat memasuki acara, Mas Tri selaku moderator memulai membuka dengan menyapa para jamaah dan masyarakat dengan bahasa khasnya. Pertama setelah pembukaan dilanjut dengan pembacaan tahlil dan tawasul oleh Kiai fatkur, salah seorang imam masjid di Patran. Kemudian dilanjutkan prolog sejenak oleh Mas Tri kaitannya dengan tema kali ini yakni MANYAK.
      Mas Tri sedikit menjelaskan tema MANYAK dengan sedikit mengejawantahkan definisi secara global. Secara pakem jawa, MANYAK berarti melakukan suatu tindakan, perbuatan dimana perbuatan itu tidak pas atau melibihi batas dan ukuran yang sudah ditentukan. Sehingga perbuatan dan perlakuan yang dilakukan dengan dasar MANYAK itulah berakibat tidak seimbang. Seimbang dan tidak seimbang bisa terjadi pada hal apapun. Misalnya pada keluarga, beliau mengambil contoh. Sekarang ini bisa kita lihat bagaimana pergaulan anak sekarang ini. Memudarnya tata krama, pergaulan bebas, dan melakukan hal-hal diluar batasan oleh Mas Tri dikatakan sebagai salah bentuk MANYAK.

  Selanjutnya Pak Bustanul memberikan sambutan dan penguraian tema manyak ini dari kajian budaya. Pada hal semestinya, MANYAK ini menurut beliau adalah hal-hal yang semestinya tidak dilakukan (Mestine ora dilakoni nanging kelakon, Lamun wis kelakon ora ngerti laku, Lamun kelaku ora tumeka ana ing sawijining wektu kang dinartampi). Apapun yang dilakukan manusia itu oleh Allah SWT sudah ditentukan dengan ditulis sejak lima ratus ribu tahun sebelum Allah menciptakan Lahul Mahfudz. Kalau dalam pujian-pujian anak-anak itu kita mengenal "Wabil qodri qoirihi syarrihi minallhi ta'ala". Maka dari itu orang tua kita dahulu sering mengingatkan kepada kita. 
    Beliau menjelaskan kalau dalam pewayangan ada salah satu tokoh yakni Wisanggeni, yang berkaitan dengan tema. Dalam kisah Mahabarata, Wisanggeni ini salah satu cerita carangan (bukan cerita sebenarnya) yang mengejawantahkan dimana proses lahirnya Wisanggeni ada hal-hal yang MANYAK, yang tidak sesuai dengan aturan yang ada. Dimana Bethara Guru, yang mempunyai rasa penyesalan besar karena sudah ngesotake (menjatuhkan) martabat (tsumma rodadnahu asfala safilin) istrinya sendiri, Dewi Uma menjadi Bethari Durga. Padahal pada saat itu Dewi Uma sedang hamil. Meskipun sudah disabda menjadi raksasa, namun Bethari Durga atau Dewi Uma sendiri tetap menggunakan ageman (pakaian) selayaknya seorang wanita. Karena pada dasarnya beliau adalah Dewi Permoni dan ditaruh di Pasetran Gondo Mayit (Pasetran : tempat Kayang digunakan untuk memuja; Gondo : Bau; Mayit : Mayat). Di tempat itulah akhirnya lahir seorang anak yang bernama Dewa Srani.  Karena Dewa Srani adalah anak dari Syang Hyang Jagad Girinata (Bethara Guru) secara lahir juga ingin menikah, ia melihat ke tempat bapaknya yang asli ada Dewi Dursina (Dursilawati) anaknya Bethara Bromo. Karena ngeyel, akhirnya si Dewa Srani bilang ke ibunya ingin meminta kepada Bethara Guru akan Dewi Dursila. Padahal kala itu Dewi Dursila sedang menjadi seorang pengantin baru dengan panengahing Pandhawa (penengahnya Pandhawa) Raden Arjuna.
    Oleh karena dalam menikah misalnya, menurut Pak Bus jangan sekedar mencari sakinahnya saja. Namun Mawaddah dan Warrahmahnya juga. Mawaddah adalah sesuatu yang normatif, aa saling membutuhkannya. Sedangkan Rahmah itu tidak membutuhkan, namun sudah diberi yakni oleh Allah SWT. Kedua hal tersebut tetap tersambung dan dibutuhkan untuk mempertahankan sankinah. Dalam pewayangan, Sakinag ini digambarkan dalam tiga hal (Triloka) : Cipta (jasmani), Rasa (rohani), dan Karsa (hati). Maka dari itu ketika ketika rasa yang berbeda tempat itu sudah menemukan titik ketentraman dan ketersambungan maka tidak akan dihinggapi rasa MANYAK. Tidak menyadari akan kekurangan-kekurangan dan kelebihan yang dimiliki. Bahkan kita sering melihat kekurangan orang lain dan jarang melihat kelebihan orang lain. Lamun kasamun ora bisa gumun, Lamun gumun ora bisa kasamun (Bayangan saja tidak bisa menjadikan dia heran, Ketika heran saja orang itu tidak bisa membayangkan menjadi kenyataan). Sebenarnya hidup ini gampang, intinya melakukan apa yang menjadi kebiasaannya insyaAllah akan berasa tenteram. Dalam istilahnya kehidupan sehari-hari kita menganl kata talqin (menuntun). Dalam konteks lebih luas, istilah talqin ini juga sering digunakan dimana ketika ibu-ibu yang mempunyai anak kecil mengajari putra-putrinya membaca suatu ayat dengan cara mengejanya. Ketika Dewi Uma meminta dan Bethara Guru mengijinkan. Pada saat sudah siap bersama pasukannya yang akan menyerang, ternyata sedang ada rapat para dewa. Namun salah satu dewa, Manikmoyo malah mengundurkan diri menjadi dewa. Arjuna dipaksa ke Madyapada, dan Sang Dewi Dursila dipaksa dan akhirnya lahir si Wisanggeni. Bahwa apabila ada sesuau yang diluar pranalar, pranata kini hendaknya kita takut akibat akan hal tersebut. Orang MANYAK kalau tidak segera tobat kepada tuhan, maka akan diobrak-abrik (dihancurkan) oleh Wisanggeni. Karena dididik oleh Semar mapan, bahwa api itu tidak hanya di Kawah Candradimuka namun juga bertempat di kancing gelung nya Wisanggeni sebagaimana jelamaan Sang Hyang Wenang. Oleh karenanya, Wisanggeni ini adalah lambang bahwa lahirnya Wisanggeni ada perkara yang tidak sesuai dengan hukum. Manusia kawin dengan manusia, hewan kawin dengan hewan. Dalam Surat Yasin ayat 36 dijelaskan :

                سُبْحَانَ الَّذِي خَلَقَ الْأَزْوَاجَ كُلَّهَا مِمَّا تُنْبِتُ الْأَرْضُ وَمِنْ أَنْفُسِهِمْ وَمِمَّا لَا يَعْلَمُونَ
" Maha Suci Tuhan yang telah menciptakan pasangan-pasangan semuanya, baik dari apa yang ditumbuhkan oleh bumi dan dari diri mereka maupun dari apa yang tidak mereka ketahui"


Dewi Permoni ingin melakukan hal diluar batas, dimana golongan setan ingin dipasangkan dengan manusia. Padahal pada Surat An Nisa ayat 10 dijelaskan :

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً  وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ  إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا 
“Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya Allah menciptakan isterinya; dan dari pada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.”

Dalam pepatah jawa kita mengenal "Ngunu ya Ngunu, Ning Aja Ngunu". Selanjutnya dilanjutkan dengan sesi dilaog. Dan sebelum memasuki sesi dialog, maiyahan kali ini yang juga ikut dihadiri oleh mas Hartono dari simpul maiyah Sanggar Kedirian dimohon untuk sepatah dua patah sambutan atau mukaddimah. Beliau menegaskan bahwa tertarik dengan tema maiyahan Tasawwuf Cinta kali ini. 


Diberdayakan oleh Blogger.