Kupat Sinto


Rangkaian perjalanan di bulan Ramadhan telah kita lalui selama satu bulan penuh, berganti memasuki bulan Syawal  yang menjadi start awal dan pendadaran setelah satu bulan penuh menjalani segala macam ibadah. Disamping prinsip kuantitatif puasa adalah menahan diri dari makan, minum, syahwat dan maksiat, dan secara kualitas adalah "menahan nafsu" merupakan hal berkaitan dengan psikologis. Oleh karena seusai satu bulan, umat muslim akan dihadapkan pada 11 bulan yang panjang guna menguji dan melihat seberapa efektif proses puasa dan tingkat ke-fitrian berlanjut sampai puasa selanjutnya? Manusia sendiri yang bisa menjawab dengan segala konsekuensinya dihadapan Tuhan.

Mencoba melihat sisi lain dari hal diatas, ada beberapa bentuk, cara dan apresiasi secara budaya dalam menyambut Idul Fitri beraneka ragam. Bukan semata untuk bersenang-senang, nyatanya selalu ada makna yang terkandung didalamnya. Dalam budaya Jawa kita mengenal dan tidak asing dengan kuliner  "KUPAT". Ketupat menjadi hidangan wajib bagi Muslim di Indonesia di setiap Hari Raya Idul Fitri. Padahal jika diamati hidangan ketupat sebenarnya tidak ada di negara-negara lain termasuk Timur Tengah. Awal mulanya yang konon berasal dari masa Sunan Kalijaga, sampai sekarang punmasih eksis dan terus ditradisikan. Selain mengandung unsur budaya, ketupat  juga mengandung sisi filosofis Jawa yang berbaur dengan nilai ke-islaman. Bermacam-macam ketupat yang telah tercipta seiring perkembangan jaman dan inovasi budaya khususnya di Nusantara. Ada Kupat Sinto, Kupat Bawang, Kupat Tumpeng, dan masih banyak lagi. Dan Kupat Sinto menjadi bahasan kali ini.

Secara historis dan budaya, Ketupat Sinto atau Kupat Sinto (jawa) merupakan jenis ketupat yang lazim dan menjadi idola di masyarakat Nusantara, khususnya Jawa. Menjadi penanda bahwa Idul Fitri sudah tiba sehingga orang berbondong-bondong membuat. Ketupat yang bila dionceki maknanya sangat dalam sekali. Kupat berasal dari 2 kata  yakni Ngaku Lepat (mengakui kesalahan). Isyarat bahwa sejatinya manusia adalah makhluk yang tidak pernah lepas dari salah. Baik kesalahan yang tidak disengaja (khilaf), kesalahan kecil, atau dosa besar. Tentu berbuah keonsekuensi pada diri. Apabila salah dan dosanya pada Tuhan maka jalan satu-satu untuk berminta maaf adalah dengan taubat. Sedangkan pada sesama manusia (hablum minan nass) adalah dengan saling mengakui kesalahan dan rela saling memaafkan.

Mengapa bungkusnya harus janur? Konon janur ini berasal dari singkatan sejatine nur (sejatinya cahaya). Ini adalah perlambang bahwa setelah manusia menjalani puasa dan ibadah lainnya di bulan Ramadhan dengan penuh ridho, keikhlasan dan istiqomah akan mendapatkan nur (cahaya) pencerahan pada diri pribadi ke kesucian sejati.

Tak ubahnya dengan kuliner Nusantara lain, Ketupat juga memberikan pesan moral kepada manusia, bahwa pada dasarnya kita semua adalah ilaihi rojiun, kembali ke Allah. Bahwa padi selamanya tidak akan menjadi padi, maka ia harus meningkatkan ke level diatasnya menjadi gabah. Begitupun gabah berproses menjadi beras, menjadi nasi. Dan pada ketupat, segenggam butiran beras yang putih rela menjadi satu dalam slongsong janur , direbus dan dimasak hingga akhirnya menyatu.

Lantas, masih relevan dan bermakna kah tradisi itu diera sekarang? Bagaimana perjalanan pewayangan menjelaskan makna ketupat ini?

Pada dentang waktu di Minggu malam 8 Juli 2018 ini, sedikit banyak akan kita kupas, diskusikan, dan sinau bareng dalam jalinan Majelis Ilmu Tasawwuf Cinta kali ini. Bersamaan dengan kita saling ber-Halal bi Halal dengan sesama. Semoga dalam munajat doa ini, kita semua diridhoi dalam berjuang di jalan-Nya.

Dengan Idul Fitri, Syawal dan budaya ketupat yang penuh dengan arti hendaknya kita bisa kembali menakar, melihat dan menetukan segala tindakan baik laku, lisan dan hati sesudah kita ber-Hari Raya ini.

Share:

Postingan