Header Ads

Header ADS

Prolog TRIWIKROMO



Triwikrama adalah kemampuan titisan Wisnu dan beberapa makhluk lainnya untuk berubah ujud menjadi raksasa yang amat besar, bertangan seribu yang disebut brahala.
Dalam pewayangan, tokoh titisan Wisnu yang tergolong sering melakukan Tiwikrama adalah Arjuna Sasrabahu dan Kresna.

Selain titisan Wisnu, Dasamuka juga bisa bertiwikrama. Dalam keadaan biasa, Dasamuka hanya berkepala satu. Namun, ketika bertiwikrama ia berkepala sepuluh dan tubuhnya menjadi jauh lebih besar.

Dalam pewayangan diceritakan, saat Kresna bertindak sebagai duta Pandawa, ia melakukan triwikrama karena Kurawa tidak mau memenuhi janjinya dan hendak mengeroyok Kresna. Karena tiwikrama Prabu Kresna, balairung istana Astina tidak mampu memuat tubuhnya sehingga jebol. Dinding-dindingnya roboh dan atapnya runtuh. Para Kurawa dan dan penghuni istana Astina lari kalang kabut untuk menyelamatkan diri.

Dalam lakon carangan berjudul Dewa Amral. Prabu Yudhistira juga melakukan triwikrama. Begitu juga Anoman, beberapa buku pewayangan menyebutkan putra Dewi Anjani itu juga sanggup melakukan tiwikrama. Misalnya ketika ia menjadi duta, waktu ia menyeberangi lautan, Anoman diterkam Wilkataksani dan ditelannya. Saat Anoman berada di dalam tenggorokan raksasa itu, ia melakukan tiwikrama sehingga leher raksasa itu bedah dan Wikataksani mati seketika.

Dalam seni kriya, khusus untuk Kresna, Arjuna dan Puntadewa, peraga wayang yang menggambarkan keadaan tiwikrama disebut brahala.

Pada pewayangan gagrak Jawatimuran, Antareja yang sedang tiwikrama dilukisakan berwajah ular naga dan badannya bersisik. Arjunasasrabahu dan Dasamuka, jika sedang tiwikrama digambarkan bertangan banyak. Tangan-tangan kecil ditambahkan pada bahu dan lengannya.

Nah kalau kita korelasikan dengan situasi sekarang ibaratnya Ormas atau kumpulan orang yang sepemahaman atau elemen anak bangsa itu satria maka sekarang mereka gampang sekali marah dan kemudian ber-Triwikromo  (Show of Force) menunjukkan kekuatannya ya kalau itu di lakukan kepada lawan itu baik untuk membuat gentar lawan tapi kalau kekuatan itu di tunjukkan kepada yang bukan lawan dan cara menunjukkannya salah malah bisa membuat yang bukan lawan menjadi terpancing untuk memusuhi sehingga berubah menjadi lawan. Karena memang masalah yang terjadi sekarang banyak anak2 bangsa yang salah  memilih teman (karena punya faham yang bertentangan dengan agama dan ideologi bangsanya) atau salah memilih lawan (padahal mereka satu agama dan satu bangsa) yang seharusnya teman karena berbeda kepentingan di jadikan lawan dan yang seharusnya jadi lawan karena sama kepentingannya malah menjadi kawan. 

Jadi intinya seorang Satria atau Elemen bangsa baik itu pribadi maupun kelompok harus tahu kapan kita bersikap lemah lembut kapan bersikap tegas kepada yang mengusik kedaulatan bangsa dan agama kita.
Diberdayakan oleh Blogger.