Karena Urusannya adalah Cinta


(Reportase Majelis Ilmu Tasawwuf Cinta  Januari 2019)


Gemericik hujan menjelang sehabis magrib sempat membasahi area SMK Kesehatan Bhakti Norma Husada yang sekaligus lokasi Sinau Bareng atau Maiyahan Tasawwuf Cinta malam ini. Terlihat panggung dan area mbeber kloso yang beberapa jam lalu sudah siap. Lalu lalang pemuda dusun Sekaran yang sejak kemarin sudah mulai menata, mempersiapkan gelaran malam ini juga tak kalah semangatnya. Bak sinergi dan rasa nyengkuyung kental terasa. Dari yang muda sampai dengan yang tua.
Sebelum dimulainya acara, beberapa personil Kiai Anom Kusumo sudah mempersiapkan alat musiknya dan cek sound awal. Mas Hendrik selaku penggiat Tasawwuf Cinta juga sedari awal sampai dilokasi. Sekitar bakda isya’ acara yang sudah digagas mulai dibuka dengan penampilan satu tembang lagu penyegar, Prau Layar oleh Kiai Anom Kusumo.

Masyarakat setempat dan beberapa sedulur maiyah Tasawwuf Cinta juga sudah hadir. Nimbrung, jagongan serta salam sapa setelah satu bulan setelah rutinan dibulan sebelumnya. Ada juga sedulur dari Jombang dan Surabaya yang datang hadir. Dengan niatan seduluran, silaturahim bukan tidak mungkin jarak yang jauh akan tertempuh. Mbah Nun pernah mengungkapkan “jarak akan menjadi jauh bila hatimu tidak sabar” . Semakin malam kloso yang tersedia sudah dipenuhi oleh jamaah. Sedangkan ibu-ibu dan mbak-mbak warga setempat menempati teras salah satu ruangan di SMK. Pemandangan yang sering terjadi disetiap rutinan. Tak ketinggalan anak-anak kecil yang biasanya mewarnai setiap sinau bareng atau maiyahan, malam itu juga hadir.

Selanjutnya, mengawali rutinan maiyahan di awal tahun 2019 dengan tema "Cinta Sebelum Cahaya" dengan sedikit dibuka oleh sedulur REMAS sekaligus memoderatori jalannya acara. Mas Fiki namanya. Dengan balutan khas kaos pemuda Sekaran dan kopiah maiyahnya, beliau memberikan gambaran sekilas tentang jalannya acara dan mengenalkan apa itu Tasawwuf Cinta kepada jamaah serta masyarakat yang hadir.
Dilanjutkan oleh Mas Arif Nasrulloh ikut nambahi gambaran maiyah dan Tasawwuf Cinta itu sendiri. Untuk lebih mengakrabkan kepada masyarakat, beliau menyebut maiyah adalah jamaahnya Cak Nun. Kultur masyarakat yang baru pertama kali mengenal maiyah, perlu secara perlahan dijelaskan dengan bahasa keseharian atau lokal. Kebanyakan mereka tidak mengerti apa itu Maiyah. Namun setelah dijelaskan dan sedikit dilemparkan pertanyaan “Apakah panjenengan semua tahu Cak Nun?” serentak mereka paham dan mengerti. Rata-rata mereka mengenal siapa Cak Nun, Kiai Kanjeng dari media siaran elektronik dari media televisi swasta atau Youtube.
Lantas kemudian, Mas Arif sedikit mengkaitkan antara Tasawwuf Cinta dengan tema malam ini. Tasawwuf yang difahami dan diartikan oleh dulur-dulur sebagai ilmu tentang bagaimana nyedak (mendekat) kepada Allah SWT, menyucikan hati, menjernihkan akhlaq. Sedangkan cinta sendiri dimaknai sebagai medianya. Jadi kalau digabungkan bisa banyak akan makna. Salah satunya yakni bahwa Tasawwuf Cinta adalah Ilmu bagaimana mendekat Sang Pencipta melalui jalan cinta, atau dalam bahasa jawa kita mengenal istilah tresno. Tresno, Katresnan menjadi akar yang dibangun dalam simpul ini. Oleh karenanya, semangat yang diusung terdapat pada kalimat-kalimat yang biasanya kita ketahui “Ngalijogo Ngudi Iline Banyu Perwitosari, Nyambung Paseduluran, Ngrajut Katresnan, Murih Ridhone Gusti Pengeran”.
Lantas tema yang sedikit dikaitkan dengan nama simpul oleh Mas Arif tadi diperjelas dengan satu dua clue kalimat. Beliau mencoba mbeber dengan mengingatkan lagi apa yang terjadi di alam semesta. Tentang lahirnya Kanjeng Nabi juga tercipta oleh Cahaya. Sebelum adanya alam semesta ini dibalik itu ada cinta Allah pada Nur Muhammad. Cinta dapat kita acuan pada kejadian pada diri kita yang tidak terlepas dari Allah yang cinta pada hambanya. Dibalik musibah, dibalik kesenangan ada peran Tuhan.
Selang beberapa menit setelah prolog atau mukadimah disampaikan, dilanjutkan Kang Isa Anshori memberikan sedikit tambahan. Mengutip dari hadist bahwasannya Rosululloh SAW bersabda irhamman fil ardhi yarhamka man fissamaa”Sayangilah yang ada di bumi, niscaya Yang ada di langit akan menyayangimu.” Beliau menjelaskan bahwa salah satu esensi cinta kepada sesama (hablum minannas). Karena Rosul sendiri mengajarkan kepada untuk saling mencintai, menyayangi satu sama lain. Allah pun juga memerintahkan dan menciptakan kita umat manusia tidak lain karena cinta-Nya. Sudah menjadi kewajiban bagi kita mencintai sesama bahkan kepada alam sekalipun. Kemudian beliau mengajak jamaah untuk melantunkan Wirid Maiyah serta bertawassul kepada Kanjeng Nabi. Dilanjutkan Kiai Anom Kusumo sedikit memberikan penyegaran untuk tembang kedua, Pambuko dan Sholawat Anfus Salam. Kang Iwan Wisanggeni yang malam itu (5/1) didapuk sebagai vokalis sekaligus gitaris dengan penuh kekhusyukan dan menjiwai menuntaskan tembang dan sholawat dengan lancar.

Sebelum masuk ke pembahasan tema, maiyahan malam ini juga bertepatan dengan Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW dan Milad Komunitas Remaja Sekaran (REMAS) yang ke 5. Bapak Irfan selaku Pembina REMAS, pada waktu itu diminta memberikan sambutan ikut senang dan bangga. Bangga bahwa Komunitas REMAS sudah tidak lagi bersifat selingkup dusun saja dari sisi kegiatan. Namun juga telah bersinergi dengan Komunitas lain di Kabupaten Nganjuk. Paseduluran yang terjalin seperti semoga terus berlanjut  untuk tetap memberikan manfaat kepada masyarakat luas.

Prosesi pemotongan tumpeng pertanda REMAS yang dibentuk sekitar tahun 2013 itu genap untuk lima tahunnya. Selang kemudian Kiai Anom Kusumo menampilkan kembali satu tembang lagu Jembar Atine disambung dengan menyanyikan Lagu Indonesia Raya dan Ya Lal Wathon.
***
Memasuki sinau bareng malam ini, Pak Bustanul Ariffin selaku pagar ilmu atau marja’ disetiap rutinan Tasawwuf Cinta pertama mengawali dengan cerita pewayangan. Pak Bus menjelaskan bahwa bumi ini  sebelum di huni manusia dihuni oleh golongan jin selama 700 tahun. Mereka diperintahkan Allah untuk beribadah pada-Nya. Sama halnya dengan manusia. Namun kala itu jin lalai  sehingga tugas beribadah pada Allah tersia-sia. Akhirnya Allah memerintahkan para Malaikat untuk memusnahkannya. Hanya 4 yang tersisa para punggawa Jin yang taat kepada-Nya. Disaat manusia diciptakan oleh Allah SWT, Allah berkehendak karena manusia yang akan menjadi khalifah dimuka bumi. Cinta yang hadir disini adalah bagaimana Allah disetiap perjalanan waktu senantiasa menjaga manusia. Meskipun saat itu Adam tergoda sehingga ditransformasikan ke bumi. Bagaimana pertemuan Adam dan Hawa, dan cerita-cerita Nabi terdahulu. Terpaut jarak dan waktu yang lama, karena kepasrahan dan ketulusan untuk beribadah kepada Allah menjadikan mereka dipersatukan lagi. Kemudian Pak Bus sedikit melantunkan lagu kenangan guna mengakhiri penjelasannya tentang  Cinta dan Cahaya di tema malam ini.
****
Berangkat dari pemahaman dan pengertian yang lain, Pak Mahmud mengungkapkan bahwa sudut pandang cinta juga membawa dampak kebaikan atau malapetaka. Cinta yang membawa malapetaka ini terjadi dua insan yang saling cinta. Karena sangat cintanya akhirnya "kebablasan" si perempuan ini di bunuh oleh laki-lakinya. Maka dari itu dalam memandang cinta kita perlu tahu. Cintanya karena apa, dasarnya apa, bentuknya bagaimana. Karena cinta urusannya bukan senang. Membawa pada kemanfaatan atau kemudhorotan, perlu dipertimbangkan.
*****
Selanjutnya Gus Naf’an Shalahudin ikut merespon tema maiyahan malam ini. Pertama-tama beliau mengungkapkan ikut berbagia bahwa di Indonesia masih ada pemuda-pemuda yang secara rela, lillahi ta’ala gawe acara seperti ini. Apalagi ada inisiatif bersinergi dengan komunitas Tasawwuf Cinta. Dengan nada penuh harap semoga komunitas Sekaran dengan semangat pemuda-pemudanya ini menjadi contoh di Kabupaten Nganjuk. Sesekali beliau mencoba melempar satu pertanyaan kepada jamaah “selama ini dimana ada ngaji bareng, sinau bareng bareng yang didalamnya ada beraneka ragam komponen seperti ini? Ono wayange, ono dalange, penyayine, sholawatan?” tanya beliau. Rata-rata masyarakat menjawab belum ada. Dan hadirnya Tasawwuf Cinta seperti ini nampaknya disambut dengan beda dalam artian keunikan tersendiri.
Lanjut Gus Naf'an mengungkapkan Indonesia sekarang ini mengalami krisis cinta. Krisis cinta bagaiamana? Imbuh beliau. Artinya saat ini banyak disekitar kita kepekaan akan kasih sayang, mencintai satu sama lain dalam artian kemanusiaan mulai memudar. Tentu hal itu juga banyak dipengaruhi faktor baik dari dalam maupun dari luar. Contohnya karena berbeda pandangan, pikiran, dan pendapat menjadikan antar tetangga saja tidak akur, satru. Satu hal lagi, beliau memberikan contoh tentang adanya  kejadian atau peristiwa Satpol PP merazia kos-kosan, merazia hotel, yang di dalam hotel dan kos-kosan itu dijadikan tempat bercinta. Cinta yang dimaksudkan ini adalah melakukan perbuatan diluar batas kewajaran normal manusia yang sama-sama belum muhrimnya. Sehingga makna bersinta sudah dibelokkan. Dan masih banyak lagi peristiwa lainnya terkait tema malam ini.
Sudut pandang cinta sangat luas. Cinta bukan hanya urusan soal sex saja, semua yang datang disini ini tentunya juga karena cinta. Habluminallah, Habluminannas. Jika kalian senang dengan Allah maka senangilah hamba-hamba-Nya. Dan perlu diketahui cinta itu tidak bisa dipaksakan. Karena Cahaya sendiri itu adalah Rosululloh SAW, maka untuk mendekatnya pun kita juga dengan bersholawat kepadanya, tambah Gus Naf’an. Cinta itu tidak bisa dipaksakan. Engkau bisa mencintai orang lain, namun engkau tidak bisa memaksa orang lain mencintaimu.
Banyak orang menikmati kegiatan dimana itu adalah ungkapan atau ekspresi cinta. Salah satu adalah istiqomahnya  orang memancing di sungai. Ia memancing bukan karena hobi, ini juga terkait istiqomah. Lebih dari itu mensyukuri alam juga ekspresi dari cinta kepada makhluk Allah, tegasnya. Sebelum itu beliau meminta untuk Kiai Anom Kusumo ikut ngiringi satu lagu “Sebelum Cahaya” sebelum dimulainya sesi tanya jawab. Dilanjutkan dengan poin tanya jawab diskusi satu dua pertanyaan untuk sama-sama direspon.
Mulai pukul 11:30 disambung dengan sesi tanya jawab yang disampaikan oleh Kang Wisnu. Pertama adalah tentang hubungan antara Qodo’ dan Qodar pada Lauhil Mahfudz. Kedua, kaitannya sebuah mimpi dengan penafsirannya. Kang Wisnu menceritakan rangkaian mimpi itu sampai dengan bertemu dengan Mbah Nun.
Pertanyaan yang dijawab pertama kali adalah tentang hubungan Qodo’, Qodar dan Lauhil Mhafudz. Pak Bus menjelaskan bahwasannya dalam kehidupan ini ada Qodho (sesuatu yang tertulis, namun belum terjadi) dan Qodar/Takdir (sesuatu yang tertulis dan sudah terjadi). Yang bisa kita minta agar mendapatkan kebaikan adalah Qodho. Berkaitan dengan takdir memang tidak bisa dirubah. Namun kalau Qodo’ bisa disyariati. Oleh karenanya Allah menciptakan sesuatu tanpa direncana. Lain dengan manusia yang harus terstruktur dan terencana. Makanya Allah mempunyai sifat Al Badi’. Kaitannya dengan itu manusia diharuskan menggunakan akal dan pikirannya agar tidak mudah putus asa. Salah satu takdir harian adalah sholat lima waktu. Sehingga apa yang terjadi Qodlo’ dan Qodar harus diyakini. Allah itu sangat sayang kepada manusia. Dilahirkan dalam keadaan fitrah, syukur-syukur kembali kepada-Nya kelak juga dalam keadaan fitrah, tambah Pak Bus. Makanya dalam lagunya Koes Plus yang berjudul Andai Kau Datang di bait pertama yakni : “Terlalu indah di lupakan, Terlalu sedih di kenangkan’’ memberikan satu pelajaran. Bagaimana Rahman Rahim-Nya Allah yang terbentang luas sampai ukuran manusia tak mampu menjangkaunya. Oleh karena itu, sesuatu yang yang pergi pasti akan kembali, sesuatu yang dipinjamkan akan kembali diminta oleh Sang Empunya. Pelajaran dan penghayatan tentang cinta yang Allah berikan kepada hamba-Nya. Dan wayang memberikan pelajaran berharga. Anda tau bagaimana dan apa yang digerakkan oleh dalang pada wayangnya. Iya tangannya. Karena apa, bahwa ini memberikan pelajaran akan ada hari dimana ketika lisan dikunci dan tangan akan jadi saksi kelak, Pak Bus memungkasi jawaban atas pertanyaan tersebut.
Kedua tentang tafsir mimpi, Kang Isa sedikit memberikan jawaban bahwa tentang isyaroh mimpi di kitab Ta’lim Muta’alim. Dalam kitab tersebut di terangkan bahwa suatu mimpi yang insyaAllah menjadi isyaroh meliputi 3 hal yakni : Mimpi dari awal sampai akhir masih teringat rangkaiannya, tidak terkena hadas besar, & tidak banyak fikiran  tentang apa yang terserat pada mimpi tersebut.

Pada pukul 01:00 diakhiri dengan lantunan tembang Kuncine Lawang Suwargo dengan sedikit diiringi puisi dari pak Mahmud. Dipungkasi dengan bermuhasabah/bersalaman diiringi lantunan Hasbunallah untuk menutup dan mengakhiri maiyahan malam ini.

Share:

Postingan