Header Ads

Header ADS

Memilenialkan Budaya


Bulan februari yang sekarang menurut para generasi muda adalah bulan kasih sayang , banyak hal yang perlu dikaji dan dipelajari dalam melihat fenomena ini , kasih sayang yang sekarang identik dengan ukuran materi dan duniawi yang  diukur secara kalkulasi . Tampaknya semakin rancu untuk mencoba menggambarkan fenomena ini , kasih sayang yang seharusnya merupakan  dasar kehidupan pondasi awal kemanusiaan sekarang menjadi  hanya diartikan simbol dan bentuk budaya baru yang cenderung ke arah    memainkan sandiwara yang penuh tendensi untuk kepentingan mulai dari kepentingan individu sampai golongan . 

Ya itulah kini yang terjadi "sandiwara kasih sayang. Kasih sayang yang memanusiakan manusia sekarang dijadikan bentuk baru sebagai cara untuk memperalat bahkan memanfaatkan untuk berbagai kepentingan . Pertanyaanya apakah kasih sayang sekarang hanya selicik itu ? Sedikit menilik diri dan terus intropeksi , jawabanya tampak beragam dan tergantung cara pandang hubunganya dengan kesadaran masing masing individu dalam memahami kasih sayang itu seperti apa.. 

Poin terpenting , kita sebagai manusia harus saling mengasihi dan menyayangi dengan cara saling peduli dan mencoba berbagi , berbagi dalam lingkup apapun asal tujuanya adalah kemanfaatan serta menuju kesadaran dan kebaikan bersama . 

Tema kali ini adalah  "memilinealkan budaya " .Budaya adalah hasil cipta rasa dan karsa manusia 
Budaya di titik sebagai awal pondasi peradaban , generasi yang harus mampu berjalan diantara kedua sisi antara kondisi kekinian ( millineal ) dengan konteks berpikir budaya , cara melangkah yang menyesuaikan dengan kondisi alam dan kondisi sosial dimana hidup dalam keseimbangan dan penuh harmoni , seimbang dalam cara berpikir disesuaikan dengan laku lahir batin kehidupan sehari hari , budaya harus kita posisikan sebagai pijakan untuk melangkah dan menata kehidupan , budaya harus diimbangi dengan konteks milineal ( kekinian ) , generasi hari ini adalah penuh tantangan , tantangan untuk berjalan penuh kesadaran , sadar secara pribadi memposisikan diri sebagai manusia yang memanusiakan dan jadi manusia yang " abdullah " dan " khalifatullah " sebagai fitrahnya , sadar secara sosial bahwa kita hidup di zaman global , dan ta pernah lupa untuk secara budaya bahwa kita sadar untuk " memayu hayuning bawana " menari berjalan melangkah bersama harmoni alam semesta 
Diberdayakan oleh Blogger.