Header Ads

Header ADS

Kumpul Sedulur


TASAWWUFCINTA.COM-Dalam menjalani kehidupan dan penghidupan didunia kita tidak bisa lepas dari manusia serta makhluk lain yang menjadi sunnatullah-Nya diciptakan sebelum manusia itu sendiri. Hidup bukan sekedar menjalani aktivitas yang menjadi rutin kita jalankan. Melainkan bersamanya, kita oleh Allah diberikan file reserve berupa daya ingat, qolbu, dan pikiran untuk senantiasa dan terus menerus diolah untuk tetap seimbang. Jangankan kita, dengan makhluk lainnya  Malaikat, jin, syetan, hewan, tumbuh-tumbuhan, bebatuan, gunung air dan segala yang terhampar di permadani ciptaan-Nya ini kita wajib meng-imani. Apa setelah itu yang kita jalankan? Ya menjalani kehidupan selama didunia ini dengan kesadaran bahwa manusia adalah khalifatullah (mandatarisnya Allah) di muka bumi. Menjalakan segala perintah-Nya serta menjauhi apa yang sudah diwanti-wanti kepada kita untuk tidak melakukannya. Mudah bukan? Kalau boleh mengutip pernyataan Mbah Nun saat kemarin Sinau Bareng Yogyakarta kemarin mengatakan “Dalam hidup, kita ini sudah dipermudah oleh Allah. Makanya jangan berdebat atas hal-hal yang tidak penting”. Dipermudah dalam artian Allah dengan Rahman Rahim-Nya, dengan segala kekuasaan-Nya, dengan segala fasilitas yang manusia sendiri pada hakekatnya hanya dipasrahi, dititipi masih diberi keluasan cinta dan ampunan-Nya pula nyatanya tak sebanding degan kita yang hanya diminta untuk melakukan satu hal yang sia-sia saja masih belum bisa. 
             Senada dengan kalimat diatas, ada satu hal yang akhirnya bisa kita masuki untuk temukan titik temunya. Kita ambil satu dua kata yang kemudian kita olah. Mencoba bertanya kebelakang lagi. Apa yang sebenarnya tujuan diciptakannya manusia itu sendiri? Mengapa oleh ilmu modern disebut dengan makhluk sosial? Manusia apa tidak bisa sendiri dalam berkehidupan? Lantas mengapa harus bersama-sama? Dari pertanyaan dan pernyataan itulah, beberapa penggiat maiyah Tasawwuf Cinta kemarin pada hari Senin malam mencari titik temu ditengah meluasnya aktivitas masyarakat Indonesia di tahun yang katanya tahun politik. Mencari sambungan hakekat akan manusia itu sendiri dengan mengambil tajuk “Kumpul Sedulur
               Kumpul Sedulur atau berkumpul dengan sedulur dalam khasanah jawa bisa diartikan dengan saling bertemunya satu dua orang dimoment tertentu dengan isi dan motif tertentu. Atau bahkan blas sama sekali karena berkumpulnya menjawab rasa kangen tidak bertemu dalam kurun waktu yang lama. Bisa saja bukan? Sedangkan sedulur sendiri dimaknai sebagai saudara baik yang langsung berhubungan darah atau teman, kawan dan sahabat yang sama sekali tidak ada pertalian secara genetik. Bisa sedulur yang bertemu disaat kita sekolah, bekerja dan sedulur karena kita ikut dalam suatu perkumpulan, bisa jadi.  Dalam khasanah jawa kita juga dikenalkan istilah Sedulur Papat Lima Pancer. Sedangkan dalam islam kita mengenal istilah silaturahim. 
             Lebih jauh lagi kumpul sedulur bila kita tarik garis kedalam akan kita dapati bahwa sedulur itu itu tidak berarti kita bertemu secara jasadiah. Sedulur Alam, sedulur makhluk-makhluk ciptaan Allah selain kita apa juga perlu kita Sambung atau Kumpuli? Lantas berkumpul dalam rangka menghayati, mentadabburi alam apa juga termasuk dalam istilah Kumpul Sedulur? Dan masih banyak lagi.
             Karena tak cukup kata dan kalimat yang ditulis mewakili  dan menampung uneg-uneg serta pendapat saudara-saudara semua, oleh karenanya akan kita urai dalam pertemuan atau rutinitas maiyah Tasawwuf Cinta Edisi Maret 2019  yang bertempat di kediaman Bapak Romli, Desa Bulurejo, Kecamatan Tanjunganom, Kabupaten Nganjuk. Tepat jarum waktu menunjuk pukul 20.00 WIB di Sabtu malam 16 Maret 2019 diskusi dan sinau bareng  kita mulai.

[Tim Tema Tasawwuf Cinta]

Diberdayakan oleh Blogger.