Header Ads

Header ADS

Nyadong Berkah Paseduluran


TASAWWUFCINTA.COM-Rerintikan air yang turun dari langit yang bersumber dari Rahman Rahim Nya Allah “mbarengi” gelaran maiyahan atau sinau bareng malam ini. Mengambil tajuk “Kumpul Sedulur” dengan niatan kembali ke Allah kelak seduluran, persaudaraan, dan katreanan ini terjaga serta istiqomah berjalan. 

Tak lepas dari itu juga, persiapan maiyahan di Sabtu malam kemarin (16/3) baik dari kebutuhan lokasi, penataan panggung dan jamaah, serta sound system seperti biasanya rampung dikerjakan. Berlokasikan di Lingkungan Desa Bulurejo Kecamatan Tanjunganom yakni kediaman salah seorang jamaah Tasawwuf Cinta, Bapak M. Romli. Sekitar pukul 16.00 WIB, alat musik sudah tertata. Semangat penabuh alat musik muda Kiai Anom Kusum, Mas Yusuf dan Mas Hendrik yang sedari awal mengawal jalan dan akomodasi alat musik tak kalah giatnya.Bersamaan maiyahan malam ini jyga dalam rangka Milad Yayasan Nurul Muhibbin ke-4 dan Peringatan Isra' Mi'raj Nabi Muhammad SAW dan Haul Kyai Muslim.


Pukul 21.15 Wib dimulai dengan wirid maiyah seperti biasa di awal acara Rutinan Sinau Bareng, memasuki 21.35 Wib dilanjutkan dengan sambutan oleh Bpk. Romli beliau sangat berterima kasih atas kedatangan dulur maiyah, pesannya dalam peran pewayangan yang ditampilkan sebagai sambutan membawa makna jangan tinggalkan sholawat sebab fadillahnya sangat luarbiasa salah satunya sebagai tameng keluarga menjaga keutuhan rumah tangga menjauhkan dari kesusahan. 

Pukul 22.25 Wib pembacaan Prolog Kumpul Sedulur oleh mas Arief, sedulur itu bertemu secara jasad Dalam khasanah jawa kita juga dikenalkan istilah Sedulur Papat Lima Pancer. Sedangkan dalam Islam kita mengenal istilah silaturahim. Lebih jauh lagi kumpul sedulur bila kita tarik garis kedalam akan kita dapati bahwa sedulur itu itu tidak berarti kita bertemu secara jasadiah saja. Sedulur Alam, sedulur makhluk-makhluk ciptaan Allah selain kita apa juga perlu kita Sambung atau Kumpuli? Lantas berkumpul dalam rangka menghayati, mentadabburi alam apa juga termasuk dalam istilah Kumpul Sedulur? Dan masih banyak lagi.

Pukul 22.30 Wib dasambung oleh gus Nafan kata-kata sedulur yang ada di media sosial & yang ada di luar. Disosial media yang terjadi malah kebanyakan berkebalikan. Banyak saling tuding, saling menyalahkan dan masih banyak lagi, hal semacam itu apakah menambahi sedulur apa "Ngedu", Justru nambahi pecah. Kenapa semakin banyak orang cerdas/pandai justru malah membabibuta karena orang yang semacam itu tidak membawa berkah dan sekarang semakin banyak ada di indonesia sekarang ini. Ujar gus Naf'an "Bisa saya hanya mengajak kumpul sedulur, ngajak Maiyahan kumpul bareng. Ujar gus Nafhan "Di Tasawwuf Cinta ini saya hanya ingin nyedulur, berbagi kasih sayang dan silaturahmi dengan anda semua". Salah satu ikhtiar agar seseorang bisa bijaksana adalah belajar Tasawwuf  seseorang punya unggah ungguh andap ashor itu hasil dari mendalami Tasawwuf. Jangan menganggap islam radikal, Islam liberal, Islam ya Islam yang radikal ialah orangnnya. Perilaku radikal itu sudah ada sejak zaman Sahabat pasca wafatnya Nabi Muhammad SAW di mulai Sayidina Umar, diteruskan Sayidina Usman dan berikutnya Sayidina Ali bin Abi Thalib di mana para beliau itu meninggal karena di bunuh oleh orang2 yang berperilaku radikal. Jadi Radikal adalah menyimpulkan orang yang berbeda pemikiran dengannya harus di buat sama atau di lenyapkan. 


Pukul 23.15 Wib disambung oleh Pak Mahmud,  Bagaimana kita menyebut Kumpul Sedulur, memaknai Kumpul, kumpul karena punya banyak kesamaan diantaranya tunggal Gustine, tunggal Nabine yang dimakan (yang dimakan sama) lalu pak Mahmud memberikan pertanyaan tentang Wadah dan Isi, lebih penting yang mana.?. Isi dan rasa lebih penting mana, _nesbate buah merah kelihatan manis, ternyata setelah di makan_ pahitnya tak terukur. 

Memahami agama, menggunakan rasa dan fungsinya  itu rasanya beda. Kalau kita sudah memahami kehidupan dengan menggunakan rasa dan gunanya, kita akan mengerti maksud atau makna sebenanya. 

Pukul 23.25 Wib KH.Bustanul arifin meneruskan bahwa kumpul sedulur yang di ambil dari budaya jawa yang banyak makna, sedulur tunggal guru, sedulur tunggal kadang. Maknanya dari itu, Sedulur saling tolong menolong, Sedulur Kadang, setiap dia datang selalu di angung agungkan. Sedulur Kakang kawah adi ari-ari . Meskipun begitu, jamaah malam ini meski pun sedikit tak beranjak dari posisinya dan istiqomah untuk tetap bersama.



Pukul 00.00 Wib dilanjutkan sesi tanya jawab di mulai oleh 
Mas Wildan dari Kediri, 

1. Menyikapi fenomena Kiamat di ponorogo? Kita harus mengimani Hari kiamat, tapi tidak ada yang tahu kapan kiamat terjadi, bahkan nabi tidak tahu, tapi hanya memberi alamat kapan kiamat itu datang.

2. Gila jabatan, yang diperjual belikan. (Pelakunya orang islam)? Yang jelas itu sudah menjadi umum, kesalahan yang di ulang-ulang berkali-kali maka itu menjadi wajar. 

Dilanjut penanya kedua Kang Ayub dari Ponpes Nglawak Kertosono yang mengajukan dua pertanyaan yaitu

1.  Kenapa sedulur kandung sering tukaran? Proses alam, selalu ada putaran, Seperti kutub utara dan selatan. Walaupun kita sekandung, kita memiliki satu sel yang berbeda untuk menciptakan perbedaan.

2. Paradigma masyarakat tentang musyrik,yang  mungkin sebenarnnya kita niatnya mendatangi / berinteraksi dalam rangka silaturahim/nyambung seduluran dengan makhluk gaib,nah bagaiamana menyikapi hal tentang paradigma seperti ini ? Innama a'malu binniat niat dengan sungguh-sungguh. Bagaimana ketika kamu sering datang di pengajian nek mesjid, senajan niatnya berbeda. Dan itu konsekuensi, tergantung niatnya sendiri-sendiri kamu mau ke tempat mana mau apa. Sebagai manusia mempunyai pertanggung jawab pribadi kepada Allah SWT.

Pukul 00.38 Selesai penutup Sinau bareng dengan tema Kumpul Sedulur di tutup dengan doa oleh pak Mahmud, dan bersalaman seperti biasa diiringi lantunan Hasbunallah wanikmal wakil. 


Diberdayakan oleh Blogger.