Header Ads

Header ADS

ANGRERIDHU : Sinau Asal Kata, Sejarah hingga Substansi Hidup

Senja sore kian menjelang seiring berjalannya waktu menjemput warna langit menyambut datangnya temaram malam. Ditemani rerintikan gerimis sore itu, nampak beberapa penggiat Tasawwuf Cinta sudah mulai berdatangan untuk menggelar sinau bareng atau maiyahan malam ini. Bertajuk tema “Angreridhu”, penggiat-penggiat ini siap mbeber kloso, saling membuka wawasan, diskusi dan sinau bareng di Halaman Masjid Besar Nurul Huda Tanjunganom, Nganjuk. Satu persatu fasilitas pendukung sudah mulai berdatangan dan segera untuk ditata. Sound system yang sedianya datang dengan satu set terop, cukup sound system saja. Alat music juga sudah dating dan segera berjejer ditata.

Satu hal yang menjadi pertimbangan pemilihan lokasi kemarin malam adalah sebagaimana fungsi masjid selain tempat melaksanakan ibadah, juga sebagai pusat atau sarana dakwah. Kaitannya dengan itu, tanpa disangka Ketua Takmir Masjid yang sedianya akan ditempati maiyahan malam ini merupakan salah satu jamaah maiyah Padhang mBulan yang aktif sampai saat ini. Beliau Bapak Kyai Masrukhin, dulur-dulur memanggilnya.

Maiyahan malam ini dimulai sekitar pukul 20.00 WIB, diawali oleh Mas Arif menuntun jalannya acara dengan  menyapa beberapa jamaah yang sedianya sudah hadir dari awal sebelum acara. Setelah itu dilanjutkan untuk bersama-sama dengan para jamaah melantunkan wirid maiyah yang langsung dipimpin oleh Kang Isa. Sebelum itu, Kang Isa sedikit menjelaskan bahwasannya simpul maiyah atau awam sering menyebut Jamaahnya Cak Nun sampai hari ini hampir disetiap kota ada. Alhamdulillah di Nganjuk sendiri ada dan juga terwakilkan dengan adanya Tasawwuf Cinta ini. Karena setiap jamaah yang dating tidak selalu yang rutin saja, bahkan malam ini juga ada beberap sedulur yang baru mengetahui kalau di Nganjuk ada simpul maiyah juga, oleh karenanya selalu sekelumit wawasan tentang itu selalu istiqomah disampaikan. Selang kemudian bersama-sama dimulai untuk wirid maiyah. Setelah itu, seperti dengan maiyahan sebelumnya Mas Baidhowi yang merangkap sebagai vokalis Kiai Anom Kusumo berkesempatan untuk membaca satu dua ayat lengkap dengan tafsir terjemahannya terkait tema  malam ini guna membuka pintu pori-pori cakrawala berpikir kita semua guna pijakan diskusi, sinau bareng, maiyahan kemarin malam (6/4).

Guna penyegaran untuk maiyahan malam ini, tak lupa Kiai Anom Kusumo dengan personil lengkapnya membawakan satu sholawat lengkap dengan alunan alat musiknya. Sangat berdaulat, panggung sedikit sederhana dan seadanya menyesuaikan lokasi dengan harapan malam menjadi penuh keberkahan serta semakin larut dalam bingkai majelis ini.
Dilanjut lagi oleh Mas Arif selaku moderator, iku urun mbeber kloso dengan menyampakan sedikit prolog dan penafsiran tema malam ini. Mas Arif mengungkapkan bahwasannya pada era sekarang ini banyak gangguan yang nyata yang harus dihadapi oleh manusia. Meskipun dalam  kehidupan tak pernah lepas dari proses dan dalam berproses itulah semua orang punya cara dan peta masing masing untuk bisa mencapai harapan dan tujuannya. Bahkan sudah sampai saat dimana banyak orang yang melakukan jalan Pintas dan berbagai hal di tempuh,mulai Rayuan, Menggoda, NGERIDU, sampai  pada Hilangnya Jiwa Kemanusiaan dan Toleransi sesama  demi tercapainya Harapan dan tujuanya ,yang lebih lebih semua tujuanya hanya sebatas Duniawi. Alangkah Beruntungnya Jika kita semua Bisa Ngeridu dengan berbagai cara dan tekad yang kuat  kepada Allah dan nabi Muhammad SAW  yang semuanya bermuara pada Kata CINTA.
Lanjut, Kang Isa juga ikut urun menyampaikan bahwasannya Angreridu bisa diartikan nganggu (mengganggu). Baik itu gangguan yang bersumber dari luar maupun dari dalam. Pada diri kita ada nafsu dan nafsu lebih kuat tinimbang setan. Oleh karenanya dalam surat An Nass tertulis : “Alladzi yuwaswisufi sudurin nas Minal jinnati wan nass”. Bahwasannya kita sering mendengar cletukan musiman ketika memasuki dan menjalani ibadah puasa di bulan Romadhon., "mosok setan poso di krangkeng tapi seh akeh setan do kluyuran". Tanpa ada godaan setan satu bulan, nafsu kita sudah terlatih. Maka dari itu, kita cermati pada mereka suatu kaum yang melabeli dirinya agama. Justru memiliki potensi besar untuk berbuat salah. Oleh karenanya, terus menerus hati, fikiran dan logika saling terpaut dan bekerja untuk selalu menemukan titik seimbangnya. Agar tidak sembrono ketika mendapati gangguan.
Sesi selanjutnya Mas Arif menawarkan kepada jamaah untuk ikut partisipasi atas tema yang diangkat kemarin malam (6/4). Mas Munir, salah seorang jamaah yang kesehariannya juga modok disalah satu pondok pesantren memberikan trafsiran Angreridhu ini dengan memberikan sedikit cerita. Dikisahkan bahwasannya ada salah seorang Professor di Jepang yang mempercayai al-quran. Professor itu percaya bahwa didalamnya ada beberapa kepastian yang akhirnya menciptakan alat sebagai penelitian tentang keajaiban alam. Dalam hal ini Angreridhu yang dimaksudkan adalah gangguan dari professor itu sendiri dikala berulang kali melakukan penelitian dalam hatinya selalu dibersamai rasa tidak percaya, bingung dan lainnya.  Ketidak percayaan pada alam yang disuguhkan alam itulah yang akhirnya memecahkan hasil. Dan akhirnya Professor itu percaya dan masuk agama islam.
Menjelang malam Mas Arif mempersilahkan Pak Romli, salah seorang jamaah maiyah Tasawwuf Cinta ikut memberikan ulasannya. Beliau mengambil angel tema dengan mengaitkannya dengan bab dzikir dan hati. Bahwasannya ketika kamu berada dalam keadaan apapun dan dimanapun jangan terlepas dari dzikir dan sholawat dalam hati sebagai tameng diri.
Karena apa? Gangguan-gangguan yang ada dalam diri manusia sampai akhir hayatnya akan selalu ada. Meskipun engkau dikata-katai oleh orang lain, yang terpenting adalah baca kembali dirimu dan sandarkan selalu apa yang Haq untuk kamu sandari. Salah satunya dengan selalu tertaut dan mengingat Allah SWT.

Selanjutnya, Pak Bustanul Ariffin yang juga sudah hadir malam itu (6/4) juga dimohonkan untuk memberikan ulasan dan penjabaran tentang tema. Beliau menjelaskan bahwasannya kata “Agreridhu” dalam khasanah Jawa penulisannya memang seperti itu. Namun dalam pengucapan atau membunyikannya dibaca “Ngreridhu”. Berasal dari kata reridu (gangguan). Oleh karenanya setiap gangguan, godaan yang hadir dalam kehidupan manusia salah satu factor pengaruhnya adalah lingkungan. Dalam Surat At-Tin diterangkan bahwasannya yang namanya buah tidak akan jatuh jauh dari pohonnya. Hal tersebut juga dipengaruhi lingkungan. Apa saja contohnya? Yakni tekstur tanah. Buah yang jatuh dari pohon yang hidup di tanah yang datar akan berbeda dengan yang jatuh dari tanah yang teksturnya miring. Oleh karena hal itu bisa juga dipahami sebagai sebuah reridu (gangguan) atau yang mengganggu.Dalam islam, ketika Allah SWT memberikan peringatan kepada hamba-Nya bisa dikatakan juga sebagai reridu (gangguan). Oleh karenanya senada dengan Pak Romli, hal itu dimaksudkan dan ditujukan oleh Allah SWT kepada hamba-Nya untuk senantiasa mengingatkan.
Terkait dengan hal itu, pada dasarnya Allah SWT dalam menciptakan makhlukNya yang bernama manusia digolongkanlah menjadi 3 : Manusia biasa, Manusia pilihan (wali, auliya) dan golongan sayyid (Nabi). Setiap Nabi yang menjadi utusan Allah mengalami berbagai macam cobaan, gangguan yang berbeda-beda. Para Nabi yang bisa mengatasi Angreridhu (gangguan) dalam perjuangan dakwahnya di beri gelar Ulul Azmi yang terdiri dari lima orang Nabi yaitu Nabi Muhammad SAW, Nabi Isa as, Nabi Nuh as, Nabi Ibrahim as, Nabi Musa as. Bahkan ketika Rasulullah SAW di tawari bantuan oleh Malaikat untuk menimpakan gunung kepada kaum Quraisy yang Angreridhu (mengganggu) dakwahnya, Nabi justru menolak. Bahkan Nabi mendoakan agar mereka beserta anak keturunannya dapat hidayah. Bukti nyata yang sampai saat ini tersemat dalam setiap muslim, bagaimana Rasulullah menempatkan segala macam keputusan dengan tenang, tak tergesa-gesa dan sabar. Perjalanan dakwah selama 23 tahun menghadapi cobaan dan menuntun umatnya ke jalan Allah bukan waktu yang pendek.
Maka dari itu, segala sesuatu apapun itu pasti ada punjer atau Sayyid nya. Sayyid-nya bangunan adalah Ka’bah. Sayyid-nya Nabi adalah Rasulullah muhammad SAW. Sayyid-nya hari adalah Jum’at. Dan Sayyid-nya bulan adalah Ramadhan. Ketika kafir Quraisy pada zaman dahulu menyembah berhala, dengan beberapa pimpinan berhala besar yang mereka nama itulah seakan mereka menganggap ajaran yang dibawakan oleh Nabi adalah sama dengan mereka. Pasalnya, pada saat Thawaf Haji dalam Islam adalah dengan mengitari Ka’bah. Pendek pikirnya mereka menganggap itu sama. Padahal itu adalah salah satu rukun sahnya Ibadah Haji. Dari situlah Nabi mencoba menjelaskan dan menata tata akhlaq masyarakat Quraisy sampai beliau akhirnya hijrah ke Madinah. 
                    Disela gayengnya sinau bareng malam ini, Pak Bustanul memberikan penyegaran lewat tembang Ilir-ilir dengan pembuka suluk jawa. Dilanjutkan sholawatan bareng Kiai Anom Kusumo dan jamaah.
          Kembali lagi ke tema, pada dasarnya secara harfiah reridu sebenarnya bisa mengarahkan pada yang baik. Sedangkan yang mengarahkan pada yang buruk bernama Goda Rencana. Dalam hal ini beliau menjelaskan, bahwasannya orang yang berbuat baik dalam perjalanannya tidaklah selalu mulus. Namun meskipun begitu tetaplah istiqomah dijalankan. Mudah-mudahan dengan gambaran kecil-kecil itu kita diberikan petunjuk yang nampak, pungkas beliau sebelum menutup penyampaian dan ulasan tentang tema malam ini.

               Setelah microfone diserahkan kepada moderator, Mas Arif tak lupa mengajak jamaah semua untuk kembali berdiri sebentar. Menyayikan Lagu Indonesia Raya. Perwujudan sikap nasionalis, mengenang leluhur bangsa dan cara mengungkapkan syukur melalui lagu kebangsaan. Begitu terasa maiyahan malam ini. Sedari sore hari dimana mendung nampak akan menurunkan butiran airnya dari langit, nyatanya Allah tidak jadi menurunkannya. Lanjut, Kiai Anom Kusumo membawakan satu sholawat Asyghil sebelum dilanjutkan lagi maiyahan.
                

                    Gus Naf'an yang sedari tadi sekitar pukul 22.00 sudah sampai dilokasi juga sudah bergabung kedalam majlis malam ini. Lanjut beliau pertama-tama mencoba menyapa jamaah. Beliau sedikit memberikan pernyataan terkait penyampaian Mas Arif kepada Gus Naf''an untuk memberikan tambahan terkait tema malam ini. Beliau menegaskan bahwasannya tidak akan menambahi atau pun mengurangi. Dalam sinau bareng, maiyahan atau forum seperti ini semua orang yang datang siapapun itu berhak dan berdaulat atas dirinya sendiri dan kapasitasnya menyampaikan apapun terkait tema. Karena pada dasarnya setiap orang itu semua membawa ilmu. Semua sama dihadapan Allah SWT.
                 Sedikit bergeser dengan membaca kondisi saat ini (pemilu) kita bisa lihat sendiri kan bagaimana atmosfir yang ada, ungkap beliau. Meskipun begitu yang paling penting dari semua bukan karena kamu membela ytang kamu dukung lantas membenci mereka yang tidak sepaham dengan dukunganmu, melainkan utamanya adalah tetap istiqomah dalam srawung. Yang dikedepankan adalah perwujudan rasa kemanusianmu. Secara lebih jelasnya beliau memberikan contohnya, bahwa ketika engkau datang ke TPS meskipun engkau tidak memilih siapapun yang sudah ditentukan dalam kertas atau surat suara, niatilah itu karena rasa penghormatanmu kepada snaak saudara, tetanggamu yang sudah rela menyediakan dan menjadi panitia. Lebih besar manfaatnya dari pada bersikukuh dan pecah belah persaudaraan hanya karena beda pilihan.

                       Guna mencairkan dan semakin khusyuk dalam sinau malam ini, beliau meminta Kiai Anom Kusumo ikut membersamai dalam musiknya melantunkan sholawat Nurul Mustofa bersama para jamaah.  Lanjut, beliau menyampaikan bahwasannya Majlis seperti ini adalah forum yang langka. Langka dalam artian bahwa ditengah banyaknya majelis-majelis, Tasawwuf Cinta mampu membawa dan merangkul setiap elemen. Ada ngajinya, ada guyonannya, ada diskusi tanya jawabnya, ada musik dan sholawatannya. Meskipun secara kuantitas tidak sebanyak dengan yang lain, beliau memberikan perumpamaan tentang intan atau berlian. Seperti kita tahu, tidak semua orang memiliki intan. Oleh karenanya intan begitu mulia dan jarang dimiliki oleh orang. Begitulah gambaran majelis ini. Kita disini bertasawuf supaya bisa andap ashor dengan orang lain. Tidak mudah menghukumi, membid'ahkan, mengkafirkan orang lain. Senada dengan itu beliau menyampaikan bahwa setiap orang bisa dekat dengan Kanjeng Nabi. Syarat mendekat dengan Kanjeng Nabi tidak karena dirimu siapa. Tidak karena nasabmu. Namun dengan begitu, kita tidak perlu meremehkan nasab. Yang penting itu adalah yang tahu dirimu, Allah dan Kanjeng Nabi. Sehingga kita terus menerus dilatih keseimbangan dan menyeimbangkan dalam menjalani proses kehidupan. 

        Mempertajam resolusi dan cara pandang tentang ke-Indonesia-an, beliau mengemukakan bahwa ditengah hiruk pikuknya Jakarta dan konstelasi politik nasional saat ini, anda dan saya yang mayoritas berdomisili dilingkup pedesaan janganlah sampai terbawa, ikut-ikutan hal yang tidak jelas. Belum tentu manfaat yang kita dapat malah mudhorotnya. Pesan beliau untuk sedikit memberikan jeda sebelum tanya jawab adalah tetaplah jaga silaturahmi, sesrawungan dengan  dengan tetangga kanan-kiri, pungkasnya.
       Tak terasa malam kian bergerak mendekati pukul 00.00 WIB, Mas Arif selaku moderator membuka pertanyaan kepada jamaah. Berikut beberapa pertanyaan dari jamaah : (1) Mas Rofiq Warujayeng : Kita itu sangat tidak bisa menghindari angreridu, pertanyaan untuk gus naf'an bagaimana kita bisa menjadi orang solihin, dan kira-kira bagaimana kita bisa menghindari angreridu (2) Mbak Nurul Surabaya :  bagaimana sikap kita di era melenial ini, anak usia sma merasa bisa memimpin dirinya sendiri. Sikap yang baik bagaimana untuk mengimbangi supaya tidak terjadi pertengkaran?
Mas Rofiq : "tidur dalam keadaan suci, membaca ayat suci, surat al ihlas, lalu diusapkan selurih tubuh. Terus ketika pada waktu sholat  saat pas wudhu baca inna angzalnaahufi lailatul qodr." (Pak Bustanul)
Mbak Nurul : "anak itu punya sifat kemrojo-rojo, selalu coba-coba. Maka kita harus mencoba bersabar, menyadari bahwa kita itu salah. Pelan-pelan berikan sebanyak-banyaknya tapi jangan berikan semua, amalannya istiqomah surat yasiin lalu untuk orang tua (ibu-ibu) bacakan surah alfatihah pas ayat iyakana'budu waiya kanaatain baca 3x tanpa nafas sambil membayangkan merangkul si anak. (PakBustanul)
Mas Rofiq : secara umum setiap kebaikan pasti ada gangguan, itu sunnatullah. Gangguan dalam sholat, menurut saya pribadi Mungkin rejeki yang kita makan itu barang tidak halal. Ketika takbirotul ihrom kita tinggalkan waktu sejenak bermigrasi dengan allah. Bercinta dengan allah, dan harus didasarkan dengan kesadaran. (Gus Naf'an)
Mbak Nurul ; " anak kecil itu iso rumongso, rumongso iso. didik anak itu supaya rendah hati. (Gus Naf'an)

Larut dengan senyuman jamaah yang sudah serasa penuh pengetahuan tentang "Angreridhu", pertemuan malam yang syahdu membawa titik doa yang dibacakan pak bus, sebagai akhir acara dan dipungkasi dengan Sholawat Nariyyah dari teman Kiai Anom Kusomo sambil bersalaman. 


Tim Reportase Maiyah Tasawwuf Cinta

Diberdayakan oleh Blogger.