Header Ads

Header ADS

GRUSA-GRUSU


GRUSA-GRUSU.  Apa yang dimaksudkan dengan istilah “Grusa-Grusu”? Lantas apa yang menjadi pertimbangan sebuah tindakan dikatakan “Grusa-Grusu”? Dalam istilah jawa, arti Grusa-Grusu  diartikan gegabah, tidak sabar, terburu-buru. Segala hal yang dilakukan tanpa dasar pertimbangan dan perencanaan yang matang . Namun pada kenyataannya banyak sekali kita dapati untuk kita tarik kebelakang, banyak peristiwa-peristiwa yang lebih mencerminkan tindakan “Grusa-Grusu”.

Kaitannya kehidupan sosial kita sering mendapati beberapa pesan yang sering disampaikan pada kita dikala kecil. Bagi mereka yang tinggal dan menggunakan Bahasa Jawa dalam keseharian pasti mengenal istilah “Alon-Alon Waton Kelakon”, yang artinya pelan-pelan saja asalkan terlaksana. Dari kedua istilah atau pesan singkat yang disampaikan itu tentunya kita dapat mengambil dan menerapkannya secara benar dalam segmen apapun. Dalam Al Qur’an sendiri disampaikan pada Surat Al Qiyamah ayat 16 yang artinya Janganlah kamu gerakkan lidahmu untuk (membaca) Alquran karena hendak cepat-cepat (menguasai)-nya. Betapa Allah sendiri juga mengingatkan bahwa sifat tergesa-gesa, terburu-buru menjadi perhatian untuk selalu kita hindarkan dalam mengambil keputusan, bertindak dan beraktivitas apapun.

Beberapa hadist Sahih pun juga dijelaskan. Cermatilah, Rasulullah SAW  dalam hadisnya yang diriwayatkan oleh sahabat Anas bin Malik r.a, bahwa beliau bersabda, “Ketenangan itu datangnya dari Allah, sedangkan ketergesa-gesaan itu datangnya dari setan” 

Selanjutnya kita simak nukilan salah satu tulisan Cak Nun berikut ini : “Kalau berada di ruang kebaikan, manusia langsung bangkit kerakusannya terhadap pahala, yang berpuncak di surga. Kalau manusia melihat keburukan, yang bangkit adalah dendamnya kepada keburukan itu, serta kepada yang berbuat buruk. Kerakusan dan dendam itu membuat manusia tergesa-gesa mentalnya, tidak bisa tenang dalam keheningan ruang dan mengikuti irama waktu”.
“Artinya ia kehilangan kejernihan ilmu, kehilangan kesabaran terhadap kebenaran Allah. Karena dipenjara oleh nafsu kerakusan terhadap perolehan pahala, serta dibakar dendam yang membuatnya ingin Tuhan menyegerakan adzab. Bahkan diam-diam ia berasumsi bahwa adzab itu tak akan pernah terjadi kalau ia tidak memohonnya kepada Tuhan” (Tuhan Yang Maha Pasif-DAUR II)

Dari beberapa nukilan kalimat-kalimat yang dikemukakan diatas, kita sedikit banyak mengetahui bahwa Grusa-Grusu sendiri memberikan dampak-dampak, bilamana itu terjadi pada diri kita. Bahkan gejala Grusa-Grusu sendiri bermula dan berawal dari ketidaktepatan serta batas-batas yang seharusnya dipatuhi malah diterjangnya. Kerakusan dan keinginan yang berlebih misalnya. Sehingga untuk mengetahui akibat dari ketidakseimbangan itu sendiri perlu dicari muara produksinya.

Lanjut dengan fenomena yang akhir-akhir ini terjadi masyarakat kita, banyak hal-hal yang melampaui batas, kurangnya ketepatan dalam pemutusan sesuatu, kesemrawutan, dan polarisasi dan terpetak-petak atas suatu hal yang seharusnya tidak membuat masalah-masalah yang seharusnya tidak terjadi. Malah menjadikan atmosfir sepanjang dua sampai tiga bulan ini memanas. Masyarakat dipusingkan dengan pilihan-pilihan. Selain dihadapkan dengan kelelahan-kelelahan yang dapat kita lihat sendiri bagaimana kenyataannya, rupanya hal itu akan menjadi hal yang lumrah dari waktu ke waktu kedepannya. 

Yang menjadi pertanyaan adalah apakah sikap yang sedemikian ini dapat seterusnya berlangsung? Bahkan dikancah yang paling urgent kaitannya dengan Negara masih tetap terjadi ketidak seimbangan, apakah masih bisa di-dandani lagi? 

Oleh karenanya di dalam majelis ini akan kita diskusikan, obrolkan dan bareng-bareng sinau memetik satu dua hikmah dan khasanah yang akan kita beber seperti malam-malam sebelumnya di Rutinan Majelis Tasawwuf Cinta. Alhamdulillah kita akan dibersamai oleh para warga, sesepuh yang tergabung dalam Takmir Masjid di dusun Gebangayu, Desa Kedungdowo, Kecamatan Nganjuk. 

Semoga langkah yang sedang dan terus kita upayakan selalu terkendali oleh Penjagaan-Nya. Aamiin


- Redakasi TASAWWUF CINTA -
Diberdayakan oleh Blogger.