Setia dan Waspada untuk Setiap Keputusan


Ditengah kerumunan masa jamaah maiyah bersama-sama mengikat silaturahim di dusun gebangayu- Kedungdowo - Nganjuk. Larian dan teriakan anak kecil tanpa malu-malu mempersilahkan kami duduk bergabung dengan jamaah yang sudah hadir sejak bakdha maghrib di mana terlebih dahulu dulur2 Remas Masjid Nur Rohmah membawakan beberapa nomer sholawat untuk mengharapkan berkah di malam hari ini melalui wasilah Kanjeng Nabi Muhammad SAW.

Memasuki pukul 20:00 WIB Gus Isa selaku marja' jamaah maiyah tassawuf cinta, membuka dengan Wirid Maiyah guna menyelaraskan frekuensi hati dalam upaya bertaqarrub ilallah, di lanjutkan dengan sambutan pak Kiyai Ulum mewakili ta’mir masjid Nur Rohmah sinambi mengujubkan acara aqiqoh putri bapak Bastomi bersama jamaah maiyah tassawuf cinta pada malam ini, pak Kiyai Ulum mengajak kita meningkatkan iman dan taqwa, dalam bulan Ramadhan. Jangan menyerah sebelum berperang, puasa adalah berperang melawan hawa nafsu. Bunyi Gamelan kiai Anom Kusumo terus setia mengiringi sholawat sepanjang acara malam ini.Lalu di lanjutkan Nderes Al Qur'an
dengan membaca surah al-baqoroh ayat 1-7 oleh kang Baidhowi mengantarkan hati penuh di liputi kesyahduan dan petunjuk bagi jamaah maiyah yang hadir.

Malam hari ini mengangkat tema Grusa-Grusu, dimana grusa grusu ini cepet-cepet, segala sesuatu yang terburu-buru akan menjadi bagian penghalang dalam aktivitas apapun. Kita minimal sedikit mungkin dalam mengambil keputusan hal tersebut di sampaikan oleh mas Arif Nasrullah sebagai prolog tema malam hari ini.

Pukul 21:30 rombongan marja' maiyah tassawuf cinta dengan pengawalan Banser menuju ke atas panggung, diiringi dengan tembang pepiling.Kiai Bustanul Arifin, Kita itu di desa oleh Tuhan dikasih kemudahan, semua ada, mau apa saja bisa. Dibandingkan hidup di kota, dengan kehidupan yang serba terbatas. Maka dari itu kita menghargai waktu, jangan grusa grusu, melihat musim, Jangan terbawa musim. Dengan penjelasan surah Al-asr, yang di transformasi kedalam kegelapan, “demi waktu asar” jika kita memasuki waktu malam, (gelap) kita di ajak mencari terang sebagai penunjuk jalan. Dan Ketika terjadi peletakan hajjar aswad Muhammad   di tunjuk untuk meletakkannya tapi beliau mengambil langkah untuk memakai kain segi empat yang masing-masing di pegang oleh empat kepala suku di Makkah. Padahal beliau di beri kesempatan dan wewenang tapi memilih untuk mengajak empat kepala suku memegang pojok2 kain yang di tengahnya ada Hajjar Aswadnya untuk selanjutnya di letakkan di Ka'bah dengan tujuan merukunkan kabilah-kabilah di Arab.Kehidupan orang itu seperti rembulan awalnya kecil, mulai besar dan kembali lagi kecil lagi. Itulah ular-ular dari kiai Bustanul Arifin.

Selanjutnya ulasan disambung oleh Gus Naf’an dengan lantunan "ilahilas" mengajak jamaah maiyah menjemput Kanjeng Nabi di hadapan kita semua. Orang Islam itu Basyiran wa nadziran, begitulah pernyataan Allah swt tentang misi yang disampaikan oleh Nabi Muhammad saw kepada umat manusia; “menyampaikan kabar gembira dan peringatan”. Tak ada paksaan dalam menyampaikan kebenaran.

Tak ada kepastian yang hanya ada kepastian kematian . Di dunia adalah tempat berlabuh untuk mencari dan menemui kebijaksanaan menuju arah jalan pulang , malam semakin indah dengan lantunan sholawat badar dibersamai kiai anom dan seluruh jamaah yang  hadir . 

Gus naf'an dengan bahasa lugas dan santai mengajak serta bersama jamaah untuk menjaga kerukunan bahwa semua hanya perjalanan beda pilihan bukan berarti beda tujuan , tujuan manusia hanya satu meraih ridho Nya , refleksi pendidikan selain menyambut bulan romadhon momen bulan mei juga sebagai bulan pendidikan , pendidikan bukan hanya peletak dasar peradaban akan tetapi pendidikan sebagai alat perubahan dan kemanusiaan yang memanusiakan , malam makin indah jabat erat dihati tiap jamaah menghadirkan Kanjeng Nabi disetiap hati masing individu yang hadir puncak kebahagiaan bertemu kepada sang kekasih.

 Setelah itu kemudian beberapa perwakilan jamaah Maiyah dipersilahkan oleh Gus isa untuk bertanya dan memberikan pendapat , momen maiyah bukan hanya tentang penyampaian transformasi ilmu belaka yang sifatnya satu arah , ada sisi lain , ada level diskusi bicara kesetaraan dan pembangunan kesadaran akan sebuah satu kesatuan yang saling melengkapi satu sisi yang harus di isi, di awal pertanyaan disampaikan oleh mas Romadhon , bagaimana menyikapi serta refleksi adanya pemilu tentang beda pilihan yang terjadi di masyarakat mengakibatkan gab dan kesenjangan , pertanyaan yang sering dilontarkan oleh seluruh lapisan masyarakat ada berbagai jawaban dan opini yang hadir untuk menyikapi dan argumen untuk melengkapi , di maiyah ada stand point lain menyikapi keberagaman pendapat tentang pemilu , pemilu bukan tujuan pemiu sebagai alat dan hanya pelengkap , poin dasarnya tetap pada kemandirian dan kedaulatan rakyat inti jawaban yang disampaikan gus naf'an , masyarakat antusias walaupun banyak perbedaan baik sikap ataupun perilaku sekali lagi kita adalah Indonesia. 

Kiai Anom Kusumo membersamai suasana malam sehingga terasa gembira sekaligus syahdu dirasakan para jamaah Maiyah sehingga bisa guyub rukun serta kebersamaan bersama Kanjeng Nabi di hati masing masing jamaah.

Sekitar jam 00:00 WIB rutinan Maiyah Tasawwuf Cinta kali ini ditutup dengan doa yang di pimpin oleh pak Kiyai Ulum dan lanjutkan oleh Mbah Zainuddin sesepuh Maiyah Tasawwuf Cinta. 

Doa penyampaian sembah nuwun kepada sang Pencipta Penguasa alam raya , semua dalam naungan   Nya , suasana lengang membawa harapan untuk keberkahan kepada seluruh elemen yang hadir pada malam yang semoga diberkahi.
Share:

Postingan