BINGKAI RAMADHAN DI MAJELIS MAIYAH TASSAWUF CINTA


“Catatan Majelis Ilmu Tasawwuf Cinta Juni 2019” 

BINGKAI  RAMADHAN DI  MAJELIS MAIYAH TASSAWUF CINTA

Ono cahoyo sumenar eng wengi
Sinarengan abyore kang lintang
Koyo purnomo sinare
Samirono lumaku
Ngrasuk kalbu Tan gawe atis
Tumeko wanci fajar
Suryo arso metu
Hamadhangi jagat royo
Dadya Tondo
Manunggal kawulo Gusti
Jro wengi Sewu condro

Sedikit nyentrik, dengan tembang membawa atmosfer jamaah menjadikan resolusi pengetahuan semakin luas. Dari berbagai sudut pandang untuk mendinginkan diskusi kiai Anom bergejolak dengan lagunya, menikmati alunan musik dengan Sruputan kopi memang membawa kesyahduan yang bercahaya.

Berkelanjutan diskusi, tanggapan tema pada malam ini “cahaya merupakan hidayah, yang setiap individu berbuat salah lalu berlaku benar” di teori hukum setiap orang dapat dihukum setiap melakukan kesalahan. Apakah kesalahan yang diperbuat manusia disengaja oleh Allah atau bagaiman, sebab hidup bagai neraca/timbangan.

Pernah saya melihat di papan sepanduk, tata cara pengguna helm, dispanduk terdapat dua contoh mana penggunaan helm yang salah mana cara menggunakan helm yang benar. Jadi manusia itu tidak tahu mana yang salah,juga tidak tahu mana yang benarnya. Mas Arif sebagai moderator malam ini sangat berdaulat, mempersilahkan para jamaah berkumpul lebih mendekat lagi.

Pak Bustanul sebagai pemateri yang baru saja merapat langsung di todong oleh mas Arif untuk memberi wawasan pada jamaah. Dalam kitab dakoq, Allah menciptakan alam ini merupakan emanasi pancaran zat ilahi, makhluk/alam. Pertama kali diciptakan Nur Muhammad, 50 ribu tahun diciptakan sebelum malaikat diciptakan. Kalau orang membaca sholawat 10x pada Kanjeng akan diangkat ke syirotol mustaqim dengan kecepatan full (mak creet) manusia adalah luncuran cahaya yang terakhir ciptaan nur/cahaya.Kullu mauludin yuladu 'alal fitrah. Manusia lahir dalam keadaan baik (fitrah). Segala sesuatu dilahirkan suci, bercahaya. Di bulan romadhon ini orang tua kita memberi anjuran, setiap tanggal 20 keatas.  Kita mencari cahaya diri kita sendiri, kita iktikaf. Disitu kita menemukan cahaya setiap apa yang kita kerjakan, dari situ ada istilah maleman ; malem selikur, artinya lingguh kursi. ( AL-baqoroh ayat 30) rolikur, di dunia ini hanya ada dua yang berpasang-pasangan. 

Telu likur, tel/buntel kur/ kursi, ada 3 harta, pengetahuan, ijab qobul. (buntel ketika lungguh kursi.)
Patlikur ; sifat linguh kursi. Sifat kita saat menduduki kekuasaan atau sedang dalam keadaan apa itu anjurannya sebagaimana. 
Selawe, ayo sak iki atine di selani ajarane Kanjeng nabi wes awe-awe. 
Nem likur ; Jinem, perasaan manusia. (Surat AL Imron 15)
Pitulikur ; golek pitulinge pangeran. 
Wolulikur ; pengaruh hidup manusia.
Songo likur ; so/mongso, setiap kursi yang ditempati pasti ada waktunya.

Usai pak bustanul memberikan Makna filosofi angka, di dalamnya saling mengkombinasi arti dalam maleman Ramadhan, Agar lebih gayeng lagi mas Arif menginkan kiai Anom untuk mencairkan suasana, semirip dengan tema tembang sebelum cahaya letto di akustikan yang di vokali oleh mas Indra.

Semakin larut terbawa dinginnya malam, para jamaah maiyah berceblungan menanggapi/merespon dari berbagai narasumber untuk meluaskan cakrawala pengetahuan. Dari jamaah Batam maiyah, ingin mempelajari simpul maiyah TC supaya dapat masukkan ilmu untuk mengelola simpul.
Spirit maiyah, selalu mendapatkan cahaya tanpa kita sadari.
Sebelum berlanjut, pak Bustanul diminta untuk memuncaki tema pada malam ini, inti dari cahaya di atas cahaya Al-qashas 77 "Wabtagi fīmā ātākallāhud-dāral-ākhirata wa lā tansa naṣībaka minad-dun-yā wa aḥsing kamā aḥsanallāhu ilaika wa lā tabgil-fasāda fil-arḍ, innallāha lā yuḥibbul-mufsidīn"
Modal yang diberikan Allah lebih banyak dari apa yang kita butuhkan, tetapi apa yang kita berikan lebih sedikit dari modal yang diberikan. Maka mintalah apa yang kita butuhkan, jangan minta apa yang Kita inginkan.

Begitulah ...
Mas Arif menyapa lagi jamaah dari KC Kenduri cinta, untuk memberi gambaran bagaimana maiyah. Disambung mas Agung Jombang, “hidup kok seperti ini, (moral) ya awalnya di ajak ikut maiyahan teman, awalnya kok ngene, opo se iki maiyah, mbah Nun itu siapa, kok sampek ribuan orang berkumpul. tapi sedikit terbawa dalam maiyah dengan setiap pertemuan pembahasan yang mendalam yang memberikan perubahan pada diri saya” itulah maiyah sedikit menyenggol tema cahaya di atas cahaya “cahaya dari Allah, manusia cuma cermin/pantulan.

Mengajak bercerita apa yang di dapat di maiyah, mas Ansori Ngronggot menambahkan temanya nyambung dengan pengalaman saya, “ketika saya menggeluti perdagangan, kebingungan modal (masalah) akhirnya saya dapat motivasi dari orang. Bahwa masalah yang saya hadapi termasuk kenikmatan, kenikmatan yang berputar. Saya berfikir bahwa yang saya cari uang, ternyata cahaya di atas cahaya kalau bisa mencari dan menemukan masalah itu adalah kebahagiaan”

Mas Arif mengajak untuk mengakhiri pertemuan ini pada pukul berapa, supaya tidak mengganggu orang. Mas Bustanul Arifin  Kediri ikut menambahi 1. orang lepas dari unsur kedunyan, (maksudnya itu bagaimana) 2. Arti dari lillah. Pertama nabi Muhammad menjelaskan hadist selalu menyertakan hadisnya pasti dengan ganjarannya? Apakah ganjarannya menghapus kekuatan lillah atau tetap pada lillahnya.

Mas Eris Kedung suko, dulu saya di ajak maiyahan teman, apa itu maiyah, zo awale aras arasen. Terus saya coba di Padang bulan, dengar di PB menikmatinya terus waktunya caknun yang berceramah kok ada misuhnya, kok ada guyonannya. Akhirnya saya tertarik dan tetap Istiqomah sampai saat ini tetap mengikuti maiyah, padahal dalam maiyah itu dapat apa saya sendiri tidak tahu” itu cerita saya di maiyah terimakasih.

Mas Lukman Mojokerto, menanggapi lagu Sebelum Cahaya “minadzulumati ila nur” kita di suruh memahami alam, dimana ciptaan Allah untuk kita nikmati. Bercerita sedikit di maiyah, awal mula kenal maiyah, sebelum kenal maiyah saya hanya tahu cak.nun. Pertama ikut, lihat, nyaman, kok pas gitu, alhamdulillah di situ lebih memahami, begitu tulusnya mbah nun menyayangi anak dan cucu maiyah.
“Mbah Nun bukan maiyah, maiyah bukan dari mbah nun tapi mbah Nun pengamal maiyah” di maiyah kita di ajak paseduluran, tidak memikirkan syurga.

Menanggapi  pertanyaan dari jamaah maiyah oleh pak Mahmud,
Cahaya itu selalu ada fungsinya, enek peteng zo mesti kudu enek seng gae madangi. masalah lillah sesuai makomnya masing-masing-masing. (Enek seng di bang-bang) tetapi kalau sudah ihklas maka akan lebih banyak.
“Semakin tahu banyak, maka akan semakin tidak tahu banyak”
Menyudahi, tanya jawab. Terkunci oleh waktu yang sudah disepakati pak Mahmud mengembalikan waktunya pada moderator,

Pukul 01:00 WIB kemesraan acara rutinan Sinau Bareng Maiyah TC di tutup dengan doa, dengan Pak Romli.

Dan di penghujung acara dulur2 TC menyudahinya dengan mushofahah bersalaman antar jamaah dengan iringan gamelan Kiai Anom Kusumo. Semoga kita mendapatkan cahaya di atas cahaya dan yang paling tertinggi Nur Muhammad.

BINGKAI RAMADHAN DI TASSAWUF CINTA

1 Juni 2019 Hal DAMKAR Warujayeng, Tanjung Anom Nganjuk.
Share:

Postingan