Reportase Rutinan Tasawwuf Cinta
Edisi 41
Lokasi; Balai Desa Tanjungkalang
Tema “Nganjuk Empire_an” ( Nganjuk Emperan)

Suasana pelaksanaan rutinan kali ini terasa agak berbeda dari biasanya, karena diselimuti udara dingin dan gerimis hujan yang menyertai rutinan kali ini di hari Sabtu tanggal 1 Februari 2020, selain jamaah tetap dari Tasawwuf Cinta hadir pula masyarakat sekitar serta perangkat Desa beserta  jajaranya, serta anggota BPD desa Tanjungkalang. Tampak terlihat hadirin dari kalangan masyarakat mulai anak-anak sampai dewasa turut serta dalam kegiatn tersebut.
Kali ini kami mengusung tema Nganjuk emperan karena kami ingin adanya pembahasan sejarah kota Nganjuk yang di padukan dengan sejarah peradaban Islam dari dulu sampai sekarang, disini Marjak yang hadir adalah Gus Naf’an Sholahudin dan KH. Bhustanul Arifin, serta Marjak tamu yang mengupas sejarah, beliau adalah Gus Burhan dan  Gus Anas Jauhari dari Lirboyo kota Kediri.
Adapun beberapa materi yang telah disampaikan oleh Gus Burhan adalah;
Candi boto Nganjuk adalah hadiah  lambang kemenangan dari kerajaan Sriwijaya
Empu sendok waktu membuat prasasti kinawe masih berpangkat Mahapatih
Sunan Bonang memulai perjalanan dari Kertosono sampai daerah Gondanglegi melalui sungai Brantas untuk berdakwah
Sunan Bonang mengutus ki bandar untuk meneliti Agama di sekitar kertosono
Sejarah Nganjuk mulai ditulis sejak tahun 1800 an
Kemudian diteruskan segmen sambung roso, yang disampaikan oleh Mas Tri dari Kota Malang,
Beliu menyampaikan beberapa hal sebagai berikut;
Hampir setiap hari, Saya selalu menginjakkan kaki di kota yang berbeda, namun dengan spirit yang sama yaitu seduluran (Silaturahim), Mengetuk pintu maaf kepada setiap orang (Al Afwu) dan membuka lembaran baru;ilmu baru; hikmah baru bahkan ijtihad baru (As Shofhu). Sebagai manusia yang tak akan pernah lepas dari kesalahan, tak akan pernah sampai pada penguasaan hikmah serta keniscayaan pada setiap langkah yang berujung sejarah, Maka ketiga hal tersebut adalah bekal yang tak pernah saya tinggal.
Jarak dari kota ke kota yan nampak jauh hanya dapat ditaklukkan dengan hati yang sabar, Maka yang jauh akan tertempuh. sehingga saya harus meletakkan ego untuk segera tiba menjadi tempaan agar supaya Muraja'ah pada setiap hal.
Ketika berada pada sebuah dialektika antar manusia, tidak jarang Kecerdasan yang melahirkan gagasan menjadi jamuan yang paling mewah, Namun yang perlu disadari pada setiap interaksi berkelanjutan dibutuhkan juga keluasan jiwa untuk saling menerima.
Ditemani hujan yang tumbuh subur dikota Nganjuk, Malam itu saya niatkan untuk sambung roso dengan teman-teman Tasawuf Cinta, Duduk bersila menikmti jamuan tuan rumah yang indah. Hingga akhirnya saya mencoba menjabarkan arti tasawuf cinta, terdiri dari 4 huruf Ta', Shod, wawu dan fa. Ta' (Taubat) perbaikan diri dilevel apapun memang awalnya dimulai dari taubat kemudian membangun diri dengan perbuatan perbuatan baik, Sehingga merasa kurang dan salah akan memudahkan orang pada fase ini, ketika sudah taubat maka ia akan menemukan Shod (shofa) yaitu ketenangan, untuk tenang dunia harus diletakkan pada tangan yang sewaktu waktu dilepaskan, Kalau sudah taubat dan tenang yang tidak terikat dunia, maka masukklah pada huruf Wawu (walayah). walayah itu berarti yang seratus persen hidupnya hanya untuk Allah, sehingga tidak ada rasa takut dan tidak takut ada rasa sedih, Kalau sudah taubat sofa walayah maka terakhir ia akan masuk ke Fana'. Ketika masuk fana ia menjadikan dirinya tak penting, yang penting adalah Allah, maka setiap langkahnya adalah langkah yang diridhoi Allah. Ke empat hal tersebut akan berujung pada Cinta, yang dari bahasa sansekerta Cintapara (keseimbangan) yaitu keseimbangan antara hati yang tertata dan pikiran yang jernih

Dunia hanya Sebatas pegangang Tangan yang sewakt waktu bisa di lepas Kata Tasawwuf ada di surat Annur ayat 25 dan kita semua adalah Tajalli Allah Cinta Asal muasalnya Keseimbangan adalah Ketertaanya hati dan Fikiran Tasawwuf Cinta adalah refleksi dari Orang-orang  yang bertaubat, tenang menduduki wilayah yang fana dalam keseimbangan Nganjuk tetaplah menjadi Emperan NKRI dengan lilin dan sinarnya yang terus menyinari sekeliling nya Yang dibutuhkn utk menggli sejarah adalah bukan penemuan fakta fakta Tapi Lebih pada Spriti spirit yang sama untuk menemukan Sejarah Nganjuk Empire itu menariknya justru Nganjuk Emperannya.
Karena Indonesia Ini Indahnya bukan Satu obor api yang menyala di jakarta tapi justru indahnya Lilin lilin Kecil yang menyala di Emperan emperan Pinggiran Indonesia ini

Setelah ungkapan sambung roso dari mas Tri, dilanjutkan oleh penuturan dari Gus Anas Juhari;
Beliau mengungkapkan bahwa Indonesia saat ini masih banyak yang sakit hati karena pertarungan politik beberap saat yang lalu, dan banyak orang pula  yang gila dengan kekuasaan dan bermimpi menjadi penguasa ssehingga sekarang muncul  phenomena berdirnya beberapa kerajaan dan keraton di Indonesia ini, mereka hanyalah menjadi lelucon dalam negeri ini karena mimpi mimpinya yang tidak tersampaikan.

Kemudian komentar di lanjutkan oleh Bapak Ahmad Jauhar selaku ketua BPD desa Tanjungkalang, yang sangat mengapresiasi adanya kegiatan Maiyah Tasawwuf Cinta, dan sangat senang dengan adanya kupasan sejarah kota Nganjuk, beliau juga bercita_cita untuk menghadirkan sosok Mbah Nun di desa Tanjungkalang.

Kemudian di lanjut oleh Nasihat dari Marjak Lokal Gus Naf’an Sholahudin, dan mengungkapkan dalam bentuk dasihat sebagai berikut;
Pelajarilah asal muasal kamu Apa yang kamu lakukan hari ini, besok sudah menjadi sejarah.., maka buatlah sejarah yang baik..
Di Maiyah kita di didik berpikir tidak linier tapi untuk  berpikir berkembang melingkar dengan berbagai variabel
Tasawwuf Cinta berdiri,
Di dasari untuk mengembalikan spirit keberanian, kejayaan sejarah Nganjuk

Setelah itu ditutup oleh petuah dari Marjak Lokal KH. Bhustanul Arifin, beliau menyatakan;
Bahwa seluruh sejarah kota di Jawa ini berhubungan satu sama lain terutama Nganjuk, Kediri, majapahit yng tersambung dengan Yogyakarta, kita harus bisa mengambil sisi positif dari sejarah dan harus pula mengetahui sisi Negatifnya sehingga kita bisa menghindar dari keterpurukan.
Acara selesai ditutup doa oleh Mbah Din, dan diteruskan Musyafakah di iringi lagu Hasbunalloh
Lebih baru Lebih lama