Reportase Sinau Bareng, Majelis Masyarakat Maiyah TASAWWUF CINTA, Sabtu 6 Juni 2020

Acara di laksanakan di Kediaman Marjak sepuh Lokal TC, KH. ZAINUDIN (MBAH DIN)
Marjak lokal yang membersamai, Gus Isa Anshori ( Kang Isa), KH. Bustanul Arifin (KANG BUS) Beserta group Music Gamelan Kiai Anom Kusumo
Pemandu acara Yudi Semplah
Audience semua jamaah Tasawuf Cinta
Acara di mulai jam 21.00
Selesai jam 23.30
Setelah acara pembukaan yang disertai pembacaan umul qur’an
Dilanjutkan pembacaan wiridz Maiyah yang di pimpin oleh Kang Isa
kang Isa sebelum memimpin wirid menyampaikan pentingnya menjaga keistikomahan, mengungkapkan betapa pentingnya memelihara paseduluran dan ketawadluan, bahwa manusia adalah hamba yang harus selalu meminta kepada Allah agar diberi jalan terang dalam menjalani kehidupan. Pak Isa juga mengungkap bahwa segala sesuatu perlu didasari dengan cinta, cinta dapat menghindarkan dari perpecahan, cinta dapat menumbuhkan rasa tanggung jawab pribadi yang mendekati kesempurnaan.
Menyanyikan lagu Indonesia raya dan Mahalul qiyam
Pembacaan prolog dengan tema Jogo Katresnan
Sub tema Sabdo Palon Nagih Janji
Setelah pembacaan prolog di lanjutkan dengan dialog tentang rasa cinta dan tresno
Pembawa acara mempersilahkan hadirin memberikan uneg_unegnya beserta pendapatnya tentang cinta atau tresno
Pertama Ibu Yuni, memberikan gambaran bahwa cinta adalah rasa yang tidak bisa di gambarkan, cinta itu sebuah perjalanan hidup, apapun resikonya harus dijalani,
Ke dua mas Sutrisno vokalis KAK, cinta adalah ungkapan yang mendalam tanpa bisa di ungkapkan dengan kata tetapi bisa di lihat dari perlakuan dan perbuatan
Ke 3 mas Budi sang gitaris, menggambarkan cinta dengan kondisi sosial, contoh komunitas wong mabuk, cinta itu bagaikan orang minum; terkadang memabukkan apabila salah dalam menanggapi,
Ke 4 mas Indra Miji mengungkapkan cinta itu bisa di rasakan tetapi tidak bisa di gambarkan, cinta itu rahasia; kita hanya menjalaninya sesuai dengan kemampuan kita dengan memupuk rasa cinta; karena kebalikan cinta adalah kebencian,
Ke 5 Marjak lokal (Kang Bus) menjelaskan bahwa cinta dan benci tidak ada perbedaan di dalamnya... semua sama, kesamaan yang ada dalam benci adalah sama_sama di angan-angan dan sama beratnya
Lalu Kang Bus Menjelaskan sesuatu yang juga sebelum acara, saya dan kang Isa dinasihati oleh Mbah Din,yaitu sebaiknya di zaman yang tidak menentu ini kita harus punya PERAHU (jamaah), PETA (tuntunan agama) dan KOMPAS (ilham petunjuk)
Ada pertanyaan dari saudara yang tidak mau di sebut namanya via WA, bagaimana menanggapi cinta yang di ingkari (di khianati)???
Lalu Dulur Wisanggeni melontarkan pendapatnya bagaimana sikapnya jika cinta itu dikhianati harus ditanggapi dengan sabar, karena sabar merupakan salah satu jalur menuju kewalian; hal ini ditanggapi oleh kang Isa pada akhir acara dengan menceritakan kewalian Syekh Abdullah berangkat dari kesabaran dalam berumahtangga.
- Kangbus mnyampaikan bahwa orang Jawa tidak mengenal cinta, tetapi tresna kependekan atau kirathabawa dari terus ana dalam kehidupan, selalu ada dalam hidup, terciptanya alam salah adalah satu wujud tresna Gusti Allah dengan sifat rahman-rahim-Nya, tresna tidak akan berakhir sampai kapanpun, kepedulian dengan orang lain (dengan sedekah harta dan ilmu) tidak akan terputus (pahalanya), berdoa tidak akan tertolak dan tidak mengenal masa akhir. Lalu Kang Bus minta Mas Wisnu menjelaskan istilah cinta sebagai pembanding, disampaikan bahwa dalam tata bahasa Indonesia banyak serapan dari bahasa lain, dan tahu-tahu ada istilah cinta sebagaimana prolog kang Isa. Kang bus curhat pengalaman belajar di SMA bahwa cinta adalah kebencian yang tertata sambil menggumam lirik lagu Diana Nasution “benci tapi rindu”.
- Tentang Sabda Palon, Kang Bus mengungkap berdasar Tritunggal dari keturunan Sanghyang Tunggal yang berujud telor (handtiga terus jadi tigan berarti sebangsa tiga), kulitnya menjadi Tejamasa (Togog; Tejamantri; Nayagenggong); putih telur menjadi Ismaya atau Nayagenggong dan kuningnya menjadi Manikmaya atau Betara Guru (Dewa di Pulau Tengguru), maka istilah Sabda Palon Naya Genggong Nagih Janji adalah sebenarnya sebuah reaksi terhadap perubahan sistem keberadaban dan keberagamaan di bumi yang tidak sesuai dengan ketentuan yang semesatinya, ia menceritakan sesi Petruk dadi ratu, Semar ambangun kahyangan dan semar maneges adalah sebuah keinginan ndandani peradaban yang mulai terjadi pergeseran, terjadinya krisis kepemimpinan dan krisis kepercayaan, tidak ada bedanya mana kawula dan mana gusti (ratu; pengauasa; pejabat) karena tidak ada yang diteladani.
- Sebelum Mbah Din memimpin doa dan berlanjut musyafahah, Kang Isa menceritakan Sabdo Palon dari sesi sejarah babat tanah jawa, pengikut Brawijaya yang mensyaratkan lima ratus tahun yang akan datang bila terjadi degradasi ia akan muncul kembali menagih janji, sementara ketika kang Isa menyinggung masalah Darmagandhul dan Gatholoco Kang Bus ikut menimpali tentang versi sejarah (asal kata sejane di arah-arah atau cerita penguat) tentang agama di tanah Jawa, ia sampaikan bahwa itu hanya balungan atau generalisasinya.
Jam 23.30 acara selesai disertai Musyafahah dengan iringan Pujian Hasbunalloh bersama Kiai Anom Kusumo

Lebih baru Lebih lama