PERADABAN SONTOLOYO

Bicara tentang sontoloyo yang kebanyakan sekarang diartikan dengan hal negatif, atau lebih jelasnya orang yang mempunyai watak mbregudul, atau sak karepe dewe, seenaknya sendiri...
Tetapi jika kita menilik pada arti sesungguhnya tentang kosakata dalam bahasa Jawa bahwa sontoloyo adalah sebuah profesi yang halal, arti dari sontoloyo menurut bahasa Jawa adalah sebutan untuk orang yang berprofesi Tukang Gembala Bebek atau angon bebek. Tapi entah kenapa arti sontoloyo bergeser kepada konotasi kiri.
Okey lah, kita membahas sontoloyo pada konotasi kiri saja.
Merujuk dari parikan dalam bahasa Jawa, yang berbunyi;
Kul kuthuk, kadal kesit ( siput yang jinak, kadal yang lincah )
Debog bosok leak leok ( pohon pisang yang busuk ber liuk_liuk )
Moto mlorok ketutup bathok ( Mata terbelalak tertutup gayung)
Ora biso ndelok ( tidak bisa melihat )
Jika di artikan kisahnya adalah antara tawadluk dan kesombongan, sama sama menemui jalan kesulitan, yang pada akhirnya akan sama jatuhnya sehingga mencari jalan sendiri_sendiri, yang tawadluk akan tetap istiqomah, tetapi yang sombong akan tertutup oleh nafsu duniawi sehingga tidak bisa melihat jalan kebenaran menuju ilahi...
Dari sini kita bisa melihat pada zaman ini , yang semu antara kebenaran dan kebatilan, sesuatu yang halal bisa dikatan haram dan sesuatu yang haram bisa menjadi terlihat halal, ibadah wajib terlihat sunat dan yang sunat digembor_gemborkan seolah olah menjadi ibadah wajib, agama dijadikan bungkus atau sampul dalam memperoleh kepentingan individu.
Lalu bagaimana kita menyikapinya...
Mari kita berdiskusi dalam rutinan Majelis Masyarakat Maiyah Nganjuk, Simpul Tasawwuf Cinta, tanggal 1 Agustus 2020
Yudi Pegiat Maiyah
Lebih baru Lebih lama