SABDO TUNGGAL TANPO TANDING

Alhamdulillah dan Alhamdulillah hanya itu kata yang tepat sebagai ungkapan syukur atas limpahan rahmat Allah atas terselenggaranya rutinan majlis Maiyah Tasawwuf Cinta ke 51 di *Padepokan Cokro Manggilingan* asuhan sosok Kyai nyentrik nan misterius yang akrab disapa dengan nama Mbah Den (beliau merupakan salah satu sosok yang mem-backup penuh Majlis Maiyah Tasawwuf Cinta kabupaten Nganjuk dan selalu hadir dan nunggoni dalam setiap rutinan TC).
Benar-benar “dramatis” dan penuh kekhawatiran, begitulah kira-kira gambarannya. Bagaimana tidak, sejak pagi team TC agak kerepotan perihal akomodasi dan komunikasi. Hal ini disebabkan karena sosok Mbah So yakni sang Negosiator sekaligus Akomodator TC terpaksa Absen karena “mendapat ganjaran” dari Alloh.

Beruntung sekali ternyata ada sosok-sosok “ringan tangan” seperti mas Fian (Drummer Kiai Anom), mas Bagus (Kendang Kiai Anom) dan mas Malik “si pendatang baru” yang kemudian menggantikan tugas dan wewenang Mbah So dengan menghandle peranannya, menyiapkan dan mengkondisikan segala keperluan yang dibutuhkan.
Setelah sekian jam persiapan, Alhamdulillah sekitar pukul 15.00 WIB segala sarana dan prasarana TC yang semula ada di Basecamp (dusun Mlinjo) dapat terakomodir sampai di lokasi rutinan TC yakni Padepokan Cokro Manggilingan dengan kondisi aman dan selamat. Bersamaan dengan datangnya Team TC tersebut, pada saat itu para pemuda Padepokan Cokro Manggilingan bersama warga setempat sedang asyik gotong-royong menyiapkan “arena” untuk ber-maiyah dengan “menyulap” jalan raya menjadi “gedung pagelaran” yang eksotik dan bernilai estetika tinggi bahkan sarat dengan makna. Hal ini (sepertinya) selain karena dipengaruhi oleh iklim padepokan yang memang “terkesan” mistis ditambah pula dengan pemasangan aksesoris baru berupa Janur-janur pohon kelapa yang menghiasi hampir di seluruh penjuru “ruangan” acara.
Sampai pada detik itu, keadaan masaih _fine-fine_ saja. Crew TC yang dikomandani mas Fian satu-persatu menurunkan alat-alat yang dibawa dari basecamp (berupa seperangkat sound system beserta seluruh perangkat music Kiai Anom Kusumo) sedangkan para pemuda Padepokan beserta masyarakat masih dalam tahap finishing _menyulap_ tempat yang ada. Namun hal tersebut ternyata tidak berselang lama, harapan tinggal harapan, angan-angan hanya tinggal angan-angan. Tidak berselang lama Allah menurunkan hujan yang sangat deras. Harapan menjadi menipis dan optimistis sedikit demi sedikit berubah pesimistis. Keyakinan berubah menjadi kekawatiran. Dapat dibayangkan bagaimana dan seperti apa yang terjadi akibat hujan deras? Beruntung alat music Kiai Anom Kusumo serta “gedung hasil sulapan” para santri Padepokan aman dan terselamatkan. Namun demikian tidak mungkin para crew TC akan melanjutkan tugas mereka dengan melakukan tahap prepare.
Pesimistis atas kesuksesan yang akan diraih majelis Tasawwuf Cinta sepertinya terus bergelayut di benak berbagai fihak. Baik dari managemen TC maupun fihak _shohibul bait_ yakni Warga Padepokan Cokro Manggilingan sudah tidak yaqin lagi akan dapat menjalankan rutinan dengan sukses. Hujan begitu deras dan tak kunjung reda. Harap-harap cemas terus tergambar dalam raut wajah-wajah mereka. Akankah hujan segera reda? Sampai kapankah hujan ini akan dihentikan oleh Alloh? Bagaimana jika hujan hingga larut malam? Tentu tidak ada yang bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut. Hanya realitas yang akan membuktikannya.
Benar adanya, fakta membuktikan bahwa hujan deras ternyata hanya berlangsung hingga waktu isya’ awal saja. Sedikit demi sedikit pada saat adzan isya’ mulai bersaut-sautan di masjid dan musholla hujan sedikit demi sedikit mulai reda, senyum manis sedikit mulai terlihat di wajah para hamba-hamba Alloh yang ada di lokasi. Optimis pun sedikit demi sedikit juga mulai terbangun. Harapan dan impian kesuksesan TC juga turut hidup kembali. Alhamdulillah ya Alloh...
Jarum jam menunjuk ke pukul 19.30 Wib hujan nyaris telah reda, semua fihak terlihat hiruk pikuk menyiapkan segala keperluan yang ada. Crew TC dan para musisi Kiai Anom yang telah hadir terlihat sibuk menyiapkan dan menata alat music mereka. Terlihat pula kang Sop sang operator TC ditemani pak Tris sang vokalis Kiai Anom yang merangkap operator terlihat bersimbah peluh karena “bergelut” dengan sound system. Sedangkan para warga padepokan melakukan pembenahan di sana-sini serta memasang “permadani” yang akan dijadikan tempat duduk para jamaah agar mereka nyaman dan tidak terganggu dengan basahnya tanah.
Kurang lebih Sekitar 30 menit, pembenahan tempat Maiyah serta pemasangan alat music Kiai Anom dirasa telah cukup. Di lain sisi para musisi Kiai Anom Kusumo 90 persen juga telah hadir. Demikian pula sound system yang dibesut Kang Sop dan Pak Tris pun juga telah siap. Oleh karenanya, cek sound pun kemudian langsung dilakukan demi menyibak dan menghangatkan suasana yang dingin akibat hujan dan sekaligus sebagai _woro-woro_ untuk warga sekitar bahwa majlis Maiyah TC tidak lama lagi akan seegera dimulai. Ternyata benar adanya, chek sound dimulai masyarakat pun satu persatu berdatangan baik dari warga sekitar maupun dari berbagai penjuru daerah.
Chek sound dan dilanjutkan dengan melantunkan _Pambuko_ ditambah beberapa lagu khas dari si Ganteng Kiai Anom Kusumo sukses dibawakan. Suasana benar-benar menjadi meriah dan menjadi hangat. Bahkan wajah sumringah juga terlihat jelas di wajah para hadirin yang ada. Canda tawa para audiens _entah apa saja yang diobrolkan hehe…_ juga mulai menambah riuh Ballroom. Namun demi durasi, keasyikan mereka dengan terpaksa dihentikan. Kurang lebih pukul 20.30 WIB majlis Maiyah Tasawuf Cinta secara resmi dibuka oleh Gus Isa sebagai moderator. Hal ini tidak lazim memang karena pada aslinya moderator TC adalah pak Yudi dan bukan Gus Isa. Namun karena pak Yudi berhalangan hadir maka terpaksa Gus Isa harus “turun Gunung”.
Setelah acara dibuka oleh gus Isa selanjutnya adalah pembacaan wirid Maiyah yang juga dipimpin langsung oleh gus Isa Anshori. Sekitar 10 hingga 15 menit wirid Maiyah dibaca dengan khsusyu’ oleh semua audiens yang ada. Seusai pembacaan wirid kemudian dilanjutkan pada seasson pembacaan al-Qur’an sekaligus pembacaan Natsar Maulid al-Barzanji oleh Ustadz Rofik. Dengan suara khasnya, beliau membaca al-Qur’an dengan menggunakan irama _Rost_ ala para Qori’-qori’. Yang dibaca adalah surat al-Baqarah ayat 72 hingga 74. Yap… hanya tiga ayat saja. Tentu Berbeda dengan pembacaan-pembacaan sebelumnya. Menurut paparan Ustadz Rofik, hal tersebut sengaja dilakukan karena pembacaan al-Qur’an didasarkan pada tema yang ada dan bukan didasarkan pada jumlah ayatnya. Menurutnya, yang dijadikan patokan adalah tema atau kandungan ayat dan bukan kuantitas ayat. Adapun pembacaan _Natsar Maulid al-Barzanji_ beliau membacah _Athiril_ yang ke 8.
Seusai pembacaan al-Qu’an dan Maulid al-Barzanji, berlanjut pada seasson berikutnya yakni pembacaan sholawat Nabi dengan _Qiyam_ serta dilanjutkan dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya. Namun agak sedikit berbeda pada pembacaan _mahalul qiyam_ kali ini yakni Ustadz Rofik sebelum memberi aba-aba kepada jamaah agar berdiri terlebih dahulu beliau mengajak para jamaah agar bersama-sama ikut melantunkan sholawat _Ya Robbi Simtud Duror_ karya Sayyid Ali Al-Habyi. Baru kemudian berdiri bersama-sama melantunkan Marhaban dengan diiringi oleh Kiai Anom Kusumo. Tidak ketinggalan lagu _Ya Lal Wathon_ juga langsung dibawakan walaupun dengan kondisi tidak berdiri sebagaimana biasanya.
Seusai menyanyikan tiga lagu “kebangsaan” Tasawwuf Cinta, sebagai moderator gus Isa selanjutnya meminta kepada salah satu tokoh agama setempat yang hadir untuk berkenan memberi “faidah” kepada jamaah yang ada. al-Hasil ada seorang Kyai Fatkur berkenan memberi “wejangan” berkenaan dengan fadlilah bulan Rojab. Beliau juga mengingatkan akan urgensitas sholat bahkan mengutip sebuah hadits yang berbunyi: أوّل ما يحاسب به العبد الصلاة artinya: “Amal yang pertama kali dihisab dari seorang hamba adalah sholatnya”.
Sekitar 10 hingga 15 menit sang Kyai mengakhiri sambutannya. Gus Isa sebagai moderator selanjutnya meminta kepada “Bintang Tamu” yang berasal dari Ngadiluwih Kediri, bernama Gus Sandi Rois untuk ikut memberi ular-ular kepada jamaah Maiyah TC. (Jika anda pernah melihat sosok Gus Gendeng maka gus Sandi Rois memiliki style yang tidak jauh berbeda). Cukup panjang beliau memberi ular-ular yang satu dari sekian subtansinya adalah menerangkan tentang kedudukan sholat di mata Alloh Sang Hyang Jagat. Dengan khas bahasa jawa pewayangan beliau mengatakan bahwa “sholat iku wasilah biso manunggaling kawulo gusti”. Artinya adalah sholat marupakan sarana bisa bersatu antara hamba dengan Tuhannya.
Kurang lebih 30 menit gus Sandi Rois memberi wejangan. Beliau sekitar pukul 23.00 mengakhiri mau’idhohnya. Gus Isa sebagai moderator kemudian meminta kepada Pak Bus yakni sebutan akrab KH. Bustanul Arifin M.Pd. untuk senjutnya melaksanakan “jatahnya” yakni memberi Mauidhoh Hasanah dengan cara dikolaborasikan dengan budaya jawa yang terintegrasi ke dalam pewayangan. Sebuah kemampuan yang tidak banyak dimiliki oleh kebanyakan Kyai. Hanya Kyai tertentu yang mampu melakukan sebagaimana yang bisa dilakukan oleh pak Bus. Beliau dengan wayangnya mengupas cukup panjang tema TC ke 51 ini yakni Sabdo tunggal Tanpo Tanding ke dalam berbagai penafsiran. Salah satu diantara makna dari tema tersebut adalah kebenaran sepenuhnya milik Allah. Oleh karenanya manusia tidak bisa dengan mudah menjustifikasi, memvonis apalagi menyalahkan orang lain. Kenapa demikian? Karena manusia tidak mengetahui isi hati orang lain kenapa ia harus melakukan demikian.
Kurang lebih satu jam pak Bus “memainkan wayangnya”. Sekitar pukul 00.15 menit beliau undur diri dan selanjutnya adalah pembacaan doa. Kali ini, gus Isa meminta Gus Sandi Rois untuk memimpin pembacaan doa. Sebagaimana biasanya, pembacaan doa usai maka dilanjutkan penutup dengan melantunkan lagu Hasbunallah walaupun edisi kali ini tidak ada mushafahah karena “arena” penuh dengan hidangan yang siap di santap segenap jamaah.

 (Bertempat di Padepokan Cokro Manggilingan dusun Patran desa Sonobekel kecamatan Tanjunganom, Nganjuk).
Lebih baru Lebih lama