Mburu Uceng Kelangan Deleg

Dok. Isa Anshori

Kesanggupan mbeber maiyahanTC kali ini dengan penuh hati-hati dengan kesiapan kewaspadaan para pegiat maiyah TC, alur, acara, rangkaian yang di sett sedemikian baik, kang Hartono Sonoageng selaku rujukan lokasi rutinan yang kerap/acapkali meminta banyak arahan tentang rutinan sabtu malam (03/07), banyak hal yang memang perlu diperhatikan dengan kondisi dan situasi saat ini. 

Juli ini kita mengambil tema  dari Pitutur Luhur Budaya Jawa dengan menjaga martabat dan kehormatan Bangsa dengan Nilai-nilai Kearifan Lokal.

Ada banyak pitutur luhur Jawa dulu yang di sampaikan lewat tembang, parik'an ataupun sanepan. Salah satunya adalah istilah "Mburu Uceng Kelangan Deleg" kalau kita tahu sebuah lampu minyak itu ada sumbunya nah sumbu yang di dalam yang bersentuhan minyak itu di namakan deleg sedangkan sumbu yang terbakar adalah uceng. Kalau kita hanya fokus ke uceng agar tetap menyala tapi tidak memperhatikan minyak yang akan di serap deleg kalau minyak habis maka puges (lebur) ucengnya dan matilah nyala api itu. di mana maksudnya secara filosofi adalah mencari tambahan tapi kehilangan yang pokok.

Dalam kehidupan terkadang seseorang mengambil suatu tindakan yang kurang berfaedah tapi karena menyenangkan tetap di lakukan padahal itu meninggalkan pekerjaan utama. Kalau dalam hal ibadah contohnya adalah mengutamakan ibadah sunah tapi justru meninggalkan yang wajib. Akibat dari hal tersebut di atas adalah kerugian yang akan di alami seseorang itu.

Nah oleh karena itulah memilih skala prioritas mana hal yang harus di dahulukan mana yang di akhirkan harus menjadi perhatian kita baik dalam kehidupan pribadi kita maupun komunitas kita agar tidak sampai terjadi hal yang merugikan secara fatal.

Mari kita bersama-sama melingkar, dengan idiologi pandang, sudut pandang, cara pandang dengan menyelaraskan Segitiga cinta, Allah, Muhammad, Manusia atau Alam semesta. 


Nganjuk 2 juli 2021

Prolog by Isa Anshori