SAYEG SAEKA PRAYA

Alhamdulillah, Segala puji milik Allah yang telah menganugrahkan kepada setiap manusia segala kebutuhan hidup baik yang bisa terbeli maupun yang tidak ada “Stok” di alam semesta. Hanya karena “Kasih”Nya dan atas nama sifat “Rahman”nya manusia mampu beraktifitas dan menghasilkan cipta dan karya. Sengaja Reportase ini dimulai dengan memuji kepada Allah karena hanya dengan limpahan anugrah Allah, atas Qudrat dan Iradat Allah Milad Majlis Masyarakat Maiyah Tasawwuf Cinta dapat terselenggara setelah melalui perjuangan panjang.

Di atas panggung ukuran 6x6 cm, ceremony Milad Tasawuf Cinte ke 5 secara resmi di buka dan langsung dilanjutkan dengan “Pitutur-Luhur” yang dikemas dalam “wayangan”  Berduet dengan wayang-wayangnya beliau Mbah Bus, mengingatkan kepada para jamaah agar para jamaah istiqomah mengerjakan shalat lima waktu karena shalat merupakan tiang agama yang secara kebetulan memiliki angka yang sama dengan ulang tahun TC yang ke- 5.


Disela-sela Mbah Bus (panggilan akrab KH Bustanul Arifin) dengan asyiknya memainkan wayang, tanpa diduga beliau tau-tau meminta kepada Ustadz Rofik untuk membacakan Nadzam Muqaddimah Simtud Duror yang menjadi salah satu ciri khas Majlis Tasawuf Cinta dalam setiap rutinannya. Dengan dukungan sound system yang menggema, serta diiringi halus suara Keyboard, Dusun Mlinjo larut dalam memuji Kanjeng Nabi seraya melafadkan “Ya Robbi Sholli ‘ala Muhammad, ya Robbi sholli ‘laihi wasallim…..”



Seusai bershalawat, pak Bus kemudian melanjutkan “wayangannya”. Namun tidak berselang lama beliau kemudian mengajak kepada para audien untuk berdiri bersama untuk melantunkan lagu “Indonesia Raya” sebagai lagu kebangsaan Republik Indoneia disusul dengan lagu Yahlal wathon. Kedua lagu ini sebagaimana lazimnya merupakan merupakan sebuah “aurod” bagi majlis TC. Oleh karenanya dimanapun TC mengadakan rutinan pasti akan menyanyikan kedua lagu tersebut sebagai wujud cinta terhadap bangsa dan Tanah air.


Ada pemandangan yang menarik pada saat menyanyikan lagu “Indonesia Raya”. Disaat lagu tersebut secara heroik dinyanyikan oleh semua yang hadir, dipimpin oleh ustadz Rofik dan ustadz Sutrisno tanpa diduga pak Bus bergegas mengambil Bendera Merah Putih yang diikat dipojok panggung kemudian mengibas-ngibaskan bendera tersebut sambil berjalan layaknya seorang Mayoret dalam panampilan sebuah group Drumb band. Yah… itulah sisi unik dari sang Marja’.


Setelah menyanyikan kedua lagu tersebut, hadirin dipersilahkan duduk dan Microphone diambil alih oleh gus Isa Anshori.  Atas nama sesepuh TC beliau memberi komando kepada para panitia untuk mempersiapkan session Santunan. Anak-anak yatim yang namanya telah terkodifikasi oleh panitia diminta secara serentak dan bersama-sama naik ke atas panggung. Diiringi lantunan syair Abu Nawas oleh Kiai Anom Kusumo menambah syahdu dan khidmat pelaksanakan santunan.


Dalam rangka menjaga istiqamah, seusai santunan anak yatim acara dilanjutkan dengan pembacaan al-Qur’an yang biasa disebut dengan “Nderes”.  Ustadz Rofik pada kesempatan tersebut membaca surat al-Baqarah ayat 103 hingga 110. Namun pada kesempatan tersebut sedikit berbeda. Beliau tidak menyampaikan terjemahan ayat dan menguraikan maknanya. Menurutnya, malam Milad merupakan malam tidak biasa oleh karenanya beliau juga ingin pada malam itu tidak biasa. Setelah Nderes di lanjutkan Mahalul Qiyam yang di lantunkan secara syahdu dan kekhusukan yang menyentuh hati oleh Ustadz Rofik dan seluruh hadirin yang hadir hingga tak terasa beberapa air mata jamaah mengalir dengan deras.


Milad dalam bahasa Indonesia biasa diartikan dengan istilah Hari Ulang Tahun sedangkan ulang tahun bagi orang Jawa identik dengan slametan dan slametan identik dengan makan-makan. Oleh karenanya Milad TC yang ke 5 ini setelah pembacaan al-Qur’an, season berikutnya adalah pemotongan tumpeng. Atas komando Gus Isa, panitia diminta mengeluarkan tumpeng yang berukuran cukup besar untuk dibawa ke panggung. Selanjutnya meminta kepada beberapa Pegiat TC dari berbagai kecamatan untuk berkenan naik ke atas panggung untuk nantinya menerima tumpeng. 


Setelah semuanya siap kemudian Gus Isa meminta kepada pak Bus untuk ngujubne dan memimpin membacakan doa dan wirid. Tumpeng akhirnya diporak di panggung dan jamaah yang ada di bawah panggung juga mendapatkan berkah karena pada saat yang bersamaan panitia mengeluarkan ransum sehingga semuanya larut dalam “goyang lidah”. Namun tidak demikian halnya dengan personil Kiai Anom Kusumo. Mereka harus rela “menelan ludah” karena memiliki tugas mulia mengiringi dan memeriahkan suasana dengan melantunkan lagu “Rampak Osing”.


Sambil para audien menikmati ransum, Gus Naf’an (salah satu Marja’ TC) “tampil” dengan memulai salam dan menyapa para jamaah. Seperti biasanya, jamaah diajak dialog dari hati ke hati untuk menggapai keteduhan dan kesabaran hidup. Beliau dalam uraiannya juga menyampaikan “sakralitas” angka 5 dari berbagai perspektif yang kebetulan bertepatan dengan angka Milad TC yang ke 5. Sekitar 30 menit beliau “bercengkrama” dengan para jamaah dan mengakhirinya tepat pukul 23.00. Penampilan gus Naf’an ini  merupakan season terakhir dalam rangkaian Milad TC yang ke 5. Oleh karenanya sebagai penutup, diminta kepada ustadz Sholihuddin dari Tanjungkalang untuk memimpin doa.


Namun sebelum acara ditutup Gus Isa memanggil "Lek Pangat" salah satu jamaah yang request untuk nyumbang lagu.  Setelah lek pangat naik panggung beliau sambil memegang mik mengatakan akan membawakan lagu hasil karya beliau sendiri yang biasa di bawakan tatkala pujian di masjid setelah beliau mengumandangkan adzan.  Lagu tersebut oleh beliau diberi tajuk "Sholli-sholli". Di luar dugaan, ketika beliau membawakan lagu tersebut respon dari jamaah luar biasa.  Para jamaah yang hadir memberikan tepuk tangan yang gemuruh untuk beliau yang hal itu bukan di karenakan bagusnya suara beliau tapi karena kelucuan dan keluguan beliau sewaktu tampil di atas panggung. Ya, kelucuan yang tulus dari hati karena ingin menghibur para jamaah.

Sayeg Saeka Praya

Nganjuk 29 Agsutus 2021