KETIBAN SAMPUR

Dalam sebuah ungkapan Jawa tersebutlah kata Ketiban Sampur di mana Sampur adalah Selendang yang di pakai penari di mana Sampur tersebut kalau sudah di kalungkan kepada seseorang maka orang tersebut harus ikut menari. Dan secara makna Ketiban Sampur itu mengandung arti mendapatkan tugas atau amanah. 

Pada moment Rutinan TC (Tasawwuf Cinta) bulan September 2021 setelah sebelumnya dulur TC memperingati Miladnya yang ke-4 sekaligus Haul Kanjeng Sunan Kalijogo dan di susul berziarah ke beberapa makam Walisongo beberapa dulur TC secara pribadi ada yang di percaya duduk dalam kepengurusan Lesbumi sebuah Lembaga yang konsen dalam pengembangan serta penyelarasan seni dan budaya dengan ajaran agama Islam artinya berusaha menyampaikan dakwah melalui seni dan budaya.

Poster Vee Digital

Kali ini bulan september 2021 Rutinan TC akan di gelar di suatu Desa yang kental dengan seni tradisi yaitu desa Ngrajek kecamatan Tanjunganom kabupaten Nganjuk yang merupakan pusat kesenian tradisional Tayub. Tayub merupakan sebuah seni tari yang muncul sejak zaman kerajaan Singosari di mana di saat itu di gunakan untuk pelantikan Raja kemudian setelah penguasa tanah Jawa silih berganti kemudian masa Kesultanan Demak tidak lagi di gunakan untuk mengiringi pelantikan Sultan baru pada era Kerajaan Mataram Islam tepatnya pada Sultan Agung kembali di gunakan untuk di pentaskan di keraton dengan istilah Langen Bekso dan bahkan konon juga di gunakan untuk menyemangati para prajurit Mataram dalam mengobarkan semangat jihad melawan penjajah Belanda dimana di gambarkan ketika seseoran yang berjihad gugur dalam medan peperangan maka dia akan di sambut oleh bidadari yang dalam tarian itu di gambarkan oleh para penari tayub tersebut. 

Tapi sayang dalam perkembangannya pertunjukan Tayub biasanya di iringi oleh para penonton yang ikut menari tapi sambil minum minuman keras sehingga citra seni Tayub sempat menjadi negatif. Maka demi memagari agar seni Tayub tidak terkotori hal-hal negatif maka Pemda Nganjuk membuat Padepokan Langen Tayub untuk memberikan arahan kepada para pelaku seni untuk bisa menghindari hal-hal negatif di dalam pertunjukan.

Dok. Mbah Suroso

Lokasi Rutinan kali ini bertempat di Gedung TPQ Assyafiyah yang merupakan tanah wakaf dan pembangunannya merupakan swadaya masyarakat di sekitar Padepokan Langen Tayub. TPQ tersebut di rintis oleh Ustadz Slamet sejak 14 tahun yang lalu kini dalam rangka syukuran Gedung Baru TPQ Assyafiiyah Ustadz slamet mengajak dulur-dulur TC, warga sekitar TPQ dan para seniman Tayub untuk Sinau Bareng pada acara Rutinan Tasawwuf Cinta.